1.
menulisi dinding, dengan merah nyaris darah. Kisah sang pembalas, jerit yang terus menggerus resah. Coretan setapak, dengan beribu telapak pelarian
kutulisi sendiri dengan jemari luka, ngucur, pada pagar pada rambu kesadaran
aku terasing, malam larut, terbaring ngelangut!
2
di tangan penghukum, pesakitan, tak pernah puitis. Tak pernah cukup berani untuk tidak di tangan aparat, pesakitan, kehilangan imaji. Terus dalam sakit, dalam dera, dalam remuk, dan hari-hari segera berlalu, seperti bayang memburu cahaya! di tangan arogansi, nyawa. Hanya prasyarat kursi jabatan, sekedar tugas
tuntutan uang makan. Atau lampias bernama sistem: tuhan bagi pengabdi dunia!
3.
rambati malam menyulam salam, tapi geram penghujan tak lagi sampai
jauh sudah mengelana, begitu guntur lalu gelap. Suara desir, derap kaki laju:
dan tumbang. Sekarat menggunung kosong. mengetuk-ngetuk kabut, pada seonggok sengal. Raga ini beku, seserpih ruh, kelu! Sekejap membunuh, sepanjang hayat terbunuh!
4.
terbikin dari apa sebenarnya, gumpal rindu ini? apa ia semacam singkong peram sebelum jadi tapai? apa ia selembut tanah liat, seribu rupa, dibakar jadi keramik?
rindu ini, terlelap dalam keranda mimpi di gigir lahat, kemana mesti kuhamparkan, atau biarkan ia, berselimut kafan, dan luluh disatroni, segenap satwa penghuni kedalaman tanah basah!
Bandung, 2008 –2014
sumber gambar thequeenbea.worpress.com
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI