Mohon tunggu...
Suciati Lia
Suciati Lia Mohon Tunggu... Guru - Guru

Belajar mengungkapkan sebuah kata agar bermanfaat

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Memetik Pelajaran Berharga dari Pengusaha Tempe, Sepaku dalam Rangka P5 Kewirausahaan

7 Februari 2024   07:08 Diperbarui: 7 Februari 2024   07:10 788
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Memetik Pelajaran Berharga dari Pengusaha Tempe, Sepaku dalam Rangka P5 Kewirausahaan

Hari ini, tepatnya jam pelajaran terakhir saya dan 33 murid mengunjungi pengusaha tempe yang ada di Sepaku 1. Kebetulan cuaca cetar membahana sehingga cocok sekali sesuai dengan perencanaan yang disusun. Saat progres P5 sedang menunggu tanaman tumbuh dan berkembang. Saya dan murid berinisiatif untuk belajar dari narasumber yakni memanfaatkan salah satu komoditas pertanian yakni kedelai. Apalagi komoditas ini dapat dimanfaatkan sebagai lauk dan gorengan yang digemari oleh masyarakat Sepaku pada umumnya.

          Pada dasarnya saat penyusunan alur pelaksanaan P5, setelah pengenalan, kontekstualitas, juga diperlukan pemahaman untuk belajar aksi nyata dari narasumber yang berpengalaman. Rencana aksi yang telah disusun bersama murid akan berdampak pada hasil dan proses pelaksanaan P5 ke depan.

          Pendidikan kewirausahaan pada P5 tidak hanya fasilitator memberikan pemahaman materi dan konsep tapi perlu memberikan pengalaman nyata yang mampu menginspirasi dan memberikan pengetahuan kepada murid. Salah satunya dengan cara yang efektif untuk mendapatkan pengetahuan tersebut adalah dengan belajar dari narasumber atau pengusaha yang telah sukses dalam bidang kewirausahaan. Dengan begitu, murid ke depan dapat belajar dan mengembangkan kemampuan sikap kewirausahaan yang akan datang.

          Dari kunjungan tersebut, murid dapat belajar secara langsung proses pembuatan tempe sehingga menghasilkan tempe tidak asam dan tidak mudah rusak. Berikut ini, pengalaman dari pengusaha tempe yang sangat menginspirasi, bermanfaat, dan relevan yang kelak dapat diikuti jejaknya oleh murid.

Menggali inspirasi dari kecil menjadi besar

Pengusaha tempe seringkali dimulai dari skala kecil, seringkali dikerjakan di rumah sendiri. Kisah dari pengusaha yang dikunjungi membangun bisnis tempe dari nol yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi murid. Hal ini membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu diawali dari modal besar, tapi memerlukan kerja keras, inovasi, dan ketekunan dalam menghasilkan produk tempe yang tidak mengecewakan.

Murid belajar memahami proses produksi dan manajemen bisnis tempe

gambar bahan baku kedelai kualitas inpor, sumber dokpri
gambar bahan baku kedelai kualitas inpor, sumber dokpri
sumber dokpri
sumber dokpri

Belajar dari pengusaha tempe akan membantu murid memahami proses produksi tempe, mulai dari pemilihan bahan baku, proses fermentasi sampai penjualan. Murid dapat memperoleh pengalaman dan wawsan mengenai manajemen bisnis tempe termasuk pengelolaan stok pemasaran dan aspek keuangan lainnya yang terlibat dalam menekuni bisnis tempe. Berikut ulasan dari pengalaman pengusaha tempe untuk membuat tempe yang tidak asam dan tahan lama alias tidak mudah busuk

  • Langkah pertama, pengusaha tempe ternyata menggunakan kaca kedelai kualitas impor dari Amerika. Saat ditanya murid mengapa tidak menggunakan produk lokal? Jika kualitas kedelai bagus akan berdampak pada produk. Sehingga kacang kedelai yang kecil kurang bagus pada produk dan mudah hancur.
  • Langkah kedua adalah tahap pembersihan kacang kedelai. Pengusaha tempe dapat melakukan pembersihan untuk memisahkan kacang kedelai dengan sesuatu yang masih melekat seperti batang atau daun kering sehingga dipastikan bersih.
  • Langkah ketiga yakni kacang kedelai yang telah bersih dicuci dengan air panas dan diredam selama semalam.
  • Kemudian, kacang kedelai digiling untuk memisahkan kacang dan pembungkus kacang. Setelah itu kacang kedelai diredam semalam lagi. Jika belum terlepas pembungkus, maka dilakukan pemisahan dengan mesin.
  • Berikutnya, kacang kedelai direbus dan didinginkan sampai dingin baru diberi ragi agar proses permentasinya sempurna.
  • Setelah itu dibungkus, lalu  menunggu esok dipasarkan kepada penjual atau langganan.

sumber dokpri
sumber dokpri

gambar proses pelepasan kulit pembungkus kedelai, sumber dokpri
gambar proses pelepasan kulit pembungkus kedelai, sumber dokpri

Dari manajemen bisnis jika dihitung saat murid bertanya, ternyata beliau mengatakan untung. Dalam 1 kg kedelai yang seharga Rp. 13.000,00 dapat dibungkus menjadi 7 buah dan dijual Rp 4000,00 x 7 buah tempe menjadi Rp. 28.000,00. Hal itu sudah sesuai biaya plastik dan tenaga sendiri. Sehingga disimpulkan jika tidak untung maka pengusaha tersebut tidak melanjutkan bisnis tempe.

Menyadari potensi pasar lokal dan global

Murid dapat mengamati pengusaha tepe yang sukses sehingga dapat menyadari potensi pasar lokal dan global untuk produk tempe. Murid dapat mempelajari strategi pemasaran yang digunakan oleh pengusaha tempe dalam menjangkau paasr lokal dan peluang memperluas bisnis ke produk lain guna melakukan pengembangan bisnisnya.

Mengembangkan kemampuan inovasi

Dari tuturan pengusaha tempe yang pernah gagal menghasilkan produk tempe yang enak. Dari situlah murid belajar dari pengusaha tempe yang melakukan inovasi dalam mengembangkan produknya agar konsumen merasa puas. Belajar dari pengalaman pengusaha tempe, murid dapat mengembangkan kemampuan inovasi baik dalam menciptakan varian produk tempe yang bagus dan kreatif untuk tantangan bisnis.

sumber dokpri
sumber dokpri

Belajar dari narasumber pengusaha kecil skala rumah tangga dapat memberikan pelajaran dan manfaat luar biasa bagi murid, terutama dalam memulai menjadi pengusaha yang ada kaitannya dengan P5 kewirausahaan. Dari tuturan pengalaman beliau dapat dijadikan inspirasi hingga pemahaman proses produksi yang dilakukan setiap hari, dari strategi pemasaran hingga inovasi untuk menghasilkan kualitas tempe yang bagus. Dari usaha beliau menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan yang luar biasa atau berharga bagi murid yang dapat dijadikan bekal ke depan dalam mengembangkan bakat kewirausaha muda yang bertalenta. Oleh karena itu, fasilitator bersama murid merencanakan P5 belajar dari narasumbernya secara langsung sebagai bagian dari penerapan dari P5 kewirausahaan.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun