Orang Jawa atau masyarakat Jawa saat ini umumnya masih mengenal system kepercayaan yang memuat unsur animism dan dinamisme. Sistem Kepercayaan ini berkembang sejak dahulu kala, sebelum hadir agama agama (Hindu- Budha, Islam, Katolik dan protestan) Â yang sekarang dianut hampir sebagian masyarakat Jawa.
Sistem kepercayaan yg dianut orang Jawa saat itu masih meyakini adanya kekuatan gaib atau roh leluhur yang mendiami pohon pohon besar, batu besar, dan benda benda lain bahkan tempat -- tempat yg dikeramatkan. Bagi saya, alam berpikir (religi) orang Jawa saat itu bisa dipahami sebagai satu cara membangun kedekatan dengan alam dengan penguasa alamnya.
Proses atau seluruh rangkaian ini bukan hanya hubungan personal dengan penguasa alam (vertical) namun juga menjadi proses terbentuknya ikatan sosial (horizontal ) yang cukup kuat. Mengingat akhir akhir ini, aktifitas aktifitas yang masih terkait dengan system kepercayaan masih terwarisi hingga hari ini, maka dari itu disebut "tradisi".
Tradisi sendiri dalam pengertiannya adalah hasil cipta dan karya manusia objek materil, kepercayaan, khayalan, kejadian atau lembaga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya (tasikuntan.wordpress.com).
Sebagai generasi yang hidup dalam alam modern, mungkinkah sanggup merawatnya? Mengingat akhir akhir ini ada begitu banyak gempuran label syirik, kafir bagi pelaku aktifitas yang berhubungan dengan tradisi. Jadi saya melihat ada dua tantangan yang harus di sikapi, pertama soal modernitas (alam pikir modern) dan tradisi yang dianggap menyimpang dari ajaran ajaran puritan.
Tradisi dan modernitas
Tradisi pada prinsipnya harus dirawat, dijaga, bahkan dikembangkan seiiring dengan perubahan zaman. Secara tampilan tradisi bisa berubah, mungkin maknanya sedikit bergeser sesuai konteks zaman.
Karena tetap saja, tradisi yang diwariskan secara turun temurun tidak akan hilang maknanya, karena berkembangnya alam berpikir baru atau yang sering disebut dengan alam pikir modern. Contoh  upacara kenduren, tradisi yang merupakan akulturasi budaya jawa dan Islam ini merupakan wujud ungkapan syukur.
Menjadi menarik justru di zaman modern ini, tradisi seperti ini berkembang karena komunikasi dan informasi yang akhirnya membuat masyarakat luas menjadi tahu.
Selebihnya justru menarik wisatawan untuk mengenal lebih jauh tradisi kenduren. Ini artinya modernitas tidak mengubur tradisi, justru unsur modernitas menjadi sarana mengenalkan kepada public sebuah tradisi. Akhirnya saat ini alam pikir manusia modern pun mampu menyelami tradisi sebagai bagian dari identitas bangsa. Itulah mengapa warisan tradisi  tidak boleh punah. Â
Tradisi dan syirik