Mohon tunggu...
Steven Polapa
Steven Polapa Mohon Tunggu... -

sederhana dalam bersikap, kaya dalam karya... pernah menjadi jurnalis koran, radio dan terakhir menjadi reporter Indosiar hingga akhirnya memilih jalan hidup dengan menjadi Oemar Bakrie pada sebuah sekolah dasar di daerah terpencil

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Terlalu Singkat

20 Juli 2010   10:00 Diperbarui: 26 Juni 2015   14:44 71
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

di rumah, 12.35 WITA
Siang itu, suasana diarea Bandara Djalaludin Gorontalo agak mendung. Mendungnya cuaca saat itu membuatku terkantuk-kantuk juga, maklumlah, baru pulang dari tempat kerja, bawaannya memang capek dan pengen istrahat. Dan seperti biasanya pula, sebelum istrahat, saya mencoba ‘menggigit apple’ (sejenis laptop). Hanya untuk sekedar menonton film sih sebenarnya, tapi tak sengaja sempat browsing juga ke salah satu situs akun jejaring sosial. Wah, ada postingan menarik nih....
****
di Bandara, 13.15 WITA
“Disebelah mana? Saya di depan pintu masuk keberangkatan” begitulah suara yang terdengar diseberang sana. Segera aku mendekat ke tempat yang dimaksud.
“Berapa lama Fitri di Makassar?” tanyaku setelah ketemu orang yang ditelepon tadi.
“Nggak lama kok, hanya sekitar dua hari begitu. Kenapa emang?” sahutnya.
“Nggak kok, cuma nanya doang,” jawabku.
“Tahu dari mana Fitri mau berangkat?” sahutnya seraya mencari tahu perihal keberangkatannya ke Makassar.
“Kontak batin doang....” tukasku tanpa memperhatikan wajahnya yang diliputi rasa tanda tanya besar.
Tak lama berselang, aku dan dia, serta kakaknya yang turut menemaninya berangkat ke Makassar, berjalan beriringan menuju ke salah satu rumah makan di areal parkir bandara. Tiba disitu, kami berbincang-bincang, yaahhhh seputaran masalah biasalah, yang pasti pembicaraan tidak mengarah ke masalah century atau ke masalah tuduhan Susno yang hingga saat ini santer menjadi headline disemua media massa apalagi menyangkut masalah hati dan pribadi. Hanya sekedar bertegur sapa, saling memandang dan kemudian bisu. Terciptalah keheningan dan bunyi keypad HP saja yang ada bersama bunyi hujan yang membasahi bumi.
****
di perjalanan menuju ke rumah, 14.44 WITA
Suara gemuruh pesawat diangkasa serta bunyi pesan yang masuk di inbox ponsel membangunkan aku dari khayalan. Khayalan tentang sebuah kisah klasik dimasa depan. Hati kecilku hanya sanggup bergumam, Insya Allah.
Hahahahahahaaa... ngarep mode on...

NB:
#  Ngerti nggak ngerti nggak usah diambil hati, cukup dibaca, dipahami dan diresapi, apa maksud yang hendak saya sampaikan.
#   Buat Fitri Riani Muhidin, saya akan mencoba mencintaimu hingga ujung waktu. Insya Allah aku bisa...
#   The last,, saat saya dalam perjalanan pulang dari Bandara,, saya kembali mencoba mendengar lagunya Sheila On 7 yang judulnya Terlalu Singkat
Terlalu Singkat - Sheila On 7
untaian rasa yg ku selipkan
semoga mampu tuk meluluhkan
hati pemilik senyum itu
berbagai cara akan ku coba
agar aku takkan kehilangan
pandangan dari senyum itu
* dan bisa aku katakan
jadi kekasihku
akan membuat
kau jauh lebih hebat
percaya padaku, uuuh
percaya padaku, uuuh
jiwaku untukmu, uuuh
hidup terlalu singkat
untuk kamu lewatkan
tanpa mencoba cintaku

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun