Mohon tunggu...
Sri Rumani
Sri Rumani Mohon Tunggu... Pustakawan - Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Tradisi Unik Membangunkan Orang Sahur dengan Bahasa "Jowo Kromo Madyo"

5 Juni 2018   18:47 Diperbarui: 5 Juni 2018   18:54 1154
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kisah Untuk Ramadan. Sumber ilustrasi: PAXELS

Indonesia terkenal dengan kekayaan tradisi yang dilakukan secara turun temurun dan menjadi bagian dari kehidupan dalam kelompok masyarakat. Menurut KBBI istilah tradisi berarti:”adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat”. Jadi kalau mendengar istilah tradisi yang terlintas dalam benak membayangkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan agar kehidupan menjadi harmonis, indah, rukun, walau berbeda tradisi tetap dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Apakah tradisi perlu dipertahankan atau dimusnahkan ?. Sangat tergantung dari masyarakat yang mempunyai tradisi tersebut, mengingat zaman sudah berubah dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Termasuk tradisi membangunkan orang sahur di di bulan puasa Ramadan. Di Indonesia ternyata mempunyai tradisi yang berbeda-beda untuk membangunkan orang sahur. Pastinya zaman “old” dengan zaman “now” media untuk membangunkan sudah berubah.

Zaman “old” kentongan menjadi media yang paling efektif untuk membangunkan orang tidur agar terjaga dengan tabuhan yang berirama keliling kampung. Zaman “now” handphone lebih cocok untuk membangunkan orang sahur, tanpa menganggu orang lain (yang tidak puasa, anak-anak kecil). Jam beker yang di stel waktunya juga menjadi tradisi keluarga untuk membangunkan orang sahur. Kebiasaan tidur yang tidak larut malam (jam 21.00), secara otomatis dapat bangun di sepertiga malam, tanpa dibangunkan.    

Tradisi membangunkan orang sahur, juga dikenal di Mekah Arab Saudi, jika waktu sahur, muazin mengumumkan datangnya waktu sahur dari atas “shauma’ah” yang berada di sudut timur Masjidil Haram. Di Kuwait, Mesir menggunakan tradisi yang hampir sama. Tradisi ini mulai semarah pada Dinasti Abbasiyah, selain seruan dari muazin, ada tradisi menggunakan dentum meriam, agar suaranya terdengar oleh orang Mekah dan sekitarnya.

Di Indonesia, tradisi membangunkan orang sahur dengan nama yang berbeda-beda tetapi tujuannya sama agar orang yang puasa melaksanakan sahur di sepertiga malam. Mulia sekali tujuannya, dengan mengorbankan waktu, melawan rasa kantuk, udara dingin, berjalan kaki dan dilaksanakan dengan penuh suka cita, agar yang puasa tidak terlambat sahur.

Tradisi membangunkan sahur yang sudah memasyarakat, mempunyai istilah yang berbeda di tiap daerah. Di Pantura disebut “Komprekan”, di Cirebon “Obrok-obrok”, di Jawa Timur dan Semarang “Dekdukan”, di Gorontalo “Tumbilotohe” (http://www.asliindonesia.net).  Di Madiun alat yang digunakan untuk membangunkan orang sahur dengan traktor pembajak sawah dengan musik elektron, disebut “musik traktor”. Di Yogyakarta, namanya “klotekan”, alatnya berupa satu set drum ditata rapi diatas gerobak yang ditarik sepeda. Di Pamekasan Madura, patroli polisi sambil membangunkan sahur disebut “musik daul”.  Di Brebes, menggunakan “buroq”, boneka raksasa yang berbentuk kuning berkepala bidadari dan macan kumbang, dengan musik nuansa Islami.

Terlepas ada yang pro dan kontra dengan tradisi membangunkan orang makan sahur, pastinya masyarakat terbantu untuk dapat bangun mempersiapkan sahur. Mengingat bangun tidur untuk makan sahur, tanpa diniatkan ibadah karena Alloh SWT sungguh terasa berat. Rasa kantuk yang menggelayut, lebih mendominasi daripada bangun sekedar sahur. Namun dengan suara-suara yang “dianggap” menganggu bagi orang yang tidak puasa, anak-anak kecil yang terbangun di malam hari, disisi lain sangat menolong orang yang puasa untuk sahur.

Tradisi membangunkan orang untuk sahur di Kompleks perumahan dilakukan bukan oleh marbot, tetapi yang biasa membantu serabutan dan tinggalnya 200 mater dari masjid Komplek. Mulai jam 02.30 dengan pengeras suara membangunkan orang-orang Komplek. Uniknya menggunakan bahasa Jawa begini:”Bapak-bapak, ibu-ibu, soho para sederek monggo kulo aturi wungu nyiapaken sahur, sakmeniko sampun jam kalih langkung tigang ndoso menit, sahur...sahur...sahur”. Artinya bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara mohon untuk bangun menyiapkan sahur, sekarang jam 02.30 menit.

Namun ada informasi tentang penyebutan jam: “sakminiko sampun jam setengah sekawan kirang kalihdoso menit”, artinya sekarang sudah jam setengah empat kurang duapuluh menit. Informasi yang kurang komunikatif, kenapa tidak disebut jam 03.10. Permintaan untuk bangun itu terus diulang-ulang setiap 10 menit sekali sampai jam 03.30. Volume suara yang agak keras, terdengar di dusun-dusun sekitarnya. Suaranya yang khas, mudah ditebak oleh warga Komplek siapa yang membangunkan itu.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak Masjid di Komplek Perumahan ditempati para PNS dari suatu lembaga non departemen. Bahasa Jawa kromo dipakai karena penduduk asli masih banyak yang berbahasa Jawa. Waktu itu tahun 1982 masjid Komplek Perumahan adalah satu-satunya masjid yang ada di pedukuhan tersebut. Sebagai pendatang, membaur dan mengajak penduduk asli untuk memakmurkan masjid. Bahasa untuk berkomunikasi dengan bahasa Jawa, karena sebagai bahasa sehari-hari. Saat ini tiap RT sudah ada masjid/mushola, dan orang yang membangunkan sahur di sepertiga malam sudah generasi kedua.  

Perlu diketahui dalam bahasa Jawa ada 3 (tiga) tingkatan bahasa yaitu “ngoko” (untuk berkomunikasi dengan teman, saudara yang usianya sejajar), “kromo madya” (orang muda kepada orang yang lebih tua/dituakan), dan “kromo inggil/alus” (biasa di gunakan di lingkungan Keraton dan Pura Paku Alaman). Masalah bahasa Jawa yang menjadi muatan loka (mulok) di sekolah-sekolah sejak TK sampai SMP, mulai tergeser dengan bahasa Indonesia. Kalaupun berkomunikasi dengan orang tua anak-anak sekarang dengan bahasa Jawa ngoko, maka sering dikatakan “wong Jowo ilang Jowone”.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun