Si pria terkulai tak berdaya, meniti arti perjalanan hidupnya, kaki yang sudah mulai berdarah karena medan jalan yang semakin terjal. Ketika ia mulai meneguhkan langkah, si pria bertemu dengan sekumpulan keledai yang saling meringih, menunjukan kegagahannya yang terlihat dibuat-buat.Â
Keledai-keledai ini hanya menggerakan badannya untuk membawa beban tuan yang dilakukan dengan penuh kebahagiaan. Mereka tidak mengerti bahwa mereka sedang diperbudak oleh kekuasaan. Bahkan untuk menyadari ketidakberdayaannya saja mereka tidak paham.Â
Sungguh, mereka dimanjakan dengan berbagai makanan yang telah disajikan didepan mata mereka. Si pria begitu iba melihat kondisi keledai-keledai tadi. Mereka dipisahkan dari kemuliaan nya sebagai mahluk yang memiliki kebebasan di alam. Tuan itu hanya memanfaatkan mereka untuk mendapatkan tenaga dan kepatuhannya saja.Â
Namun si pria kebingungan, melanjutkan perjalanan menuju gunung yang termenung. Seolah sedang memperhatikan gerak-gerik kebodohan peradaban manusia, yang membangun kekuatan diatas penderitaan kawanannya sendiri. Mereka berlomba untuk mengais kegembiraan selagi menjerumuskan yang lainnya kedalam kawah sengsara yang menganga.Â
Manusia itu menentukan nilai untuk satu sama lain dan dirinya. Mereka melakukan jual beli nilai untuk kepuasan pribadi. Ada yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai sosial, politik, cendekiawan, kekuatan, kekayaan, ketaatan. Semua itu semata-mata untuk mengamankan kepentingan setiap raganya. Namun disisi lain, nilai yang susah payah manusia dapatkan tadi, tidak diperoleh secara cuma-cuma dari tanah hampa.Â
Mereka saling merebut nilai dari yang lain untuk menambahkan nilai pada dirinya sendiri. Perputaran tadi terus berlanjut tiada henti selama manusia itu masih ada dimuka bumi. Si pria berpikir, jika nilai-nilai tadi ada hanya untuk menumbuhkan curiga dan sengsangra, akan lebih baik menjadi seseorang yang tak bernilai sama sekali dimata manusia.Â
Dengan begitu tidak ada lagi hasrat untuk merasa lebih baik dari yang lain, lebih kuat dari yang lain, lebih buruk dari yang lain, atau lebih lemah dari yang lain. Namun kesetaraan tadi hanyalah hisapan jempol belaka, bagi peradaban yang dianggap sudah dewasa.Â
Inilah kenyataan, sesuatu yang rusak dan tidak sempurna namun akan tetap ada pada setiap raga yang bernyawa. Sayangnya bukan harapan, melainkan kenyataanlah yang justru mempertahankan kehidupan manusia.
Langkah kaki si pria berayun melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung kenyataan. Mahluk kecil hitam tetap mengikuti dibelakang, dia akan menyeringai setiap kali luka bertambah pada kaki telanjang si pria yang menginjak tajamnya batu-batu pertentangan.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI