Hari ini, salah satu berita yang heboh adalah berita tentang Adrian Maulana naik commuter line (KRL). Terutama di twitter, berita ini mampu memantik ratusan komentar dan ribuan likes.Â
Satu sisi, ada ratusan ribu orang setiap harinya bepergian dengan KRL. Bukan hanya di Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga sekarang ada di Solo sampai dengan Yogyakarta. Kenapa Adrian bisa jadi berita?
Kira-kira begitulah tanda tanya yang bisa saja muncul di benak siapa saja.
Dari sisi itu, sebenarnya gampang dipahami, lantaran figur yang diangkat memang sudah terkenal sebagai seorang seleb dan juga petinggi di salah satu perusahaan investasi ternama.Â
Apalagi di tengah kalangan pers sudah jamak dipahami, apa saja yang ingin dan perlu diketahui oleh masyarakat luas, maka itu adalah berita (Doug Newson & James A. Wollert).
Terlepas berita terkait Adrian Maulana dan KRL itu dikemas secara sederhana, juga hanya merujuk ke unggahan di media sosialnya seleb itu sendiri, namun ini layak disebut sebagai berita penting.
Kenapa?
Sebab di sini tidak hanya bercerita tentang orang (who), melainkan juga tentang apa yang dibawa (what). Di balik berita yang sesederhana itu ada pesan tidak sederhana yang diusungnya, yakni tentang membangun kebiasaan baik.
Bepergian dengan KRL atau dengan kendaraan umum apa saja adalah kebiasaan baik, dan memang sangat layak digaungkan. Bukan masanya lagi mengidentikkan kendaraan umum atau transportasi publik hanya sebagai andalannya orang-orang susah atau masyarakat bawah.Â
Sepengamatan saya dalam 10 tahun terakhir, banyak kebiasaan baik yang "menular" di tengah pengguna KRL:
1. Lebih menghargai waktu
Rata-rata pengguna KRL adalah orang yang sangat peka dengan waktu. Mereka cenderung lebih peka mengkalkulasi waktu dibutuhkan dari rumah ke tempat kerja atau kantor dan sebaliknya.Â
Tak sedikit dari orang-orang yang saya kenal dan aktif menjadi pengguna KRL sampai hafal di luar kepala tentang jadwal kereta hingga kapan saja stasiun mereka tuju lebih lega atau tidak.
2. Lebih peka sekeliling
Sekarang, siapa saja takkan asing lagi melihat pemandangan seperti anak muda yang dengan sukarela menyerahkan tempat duduknya kepada orang lanjut usia (lansia) atau ibu hamil dan menyusui hingga difabel.Â
Saya sendiri bahkan pernah melihat seorang bapak yang juga sudah bisa disebut lansia memilih mengalah dan memberikan tempat duduknya kepada seorang difabel.Â
Berdiri di sebelah penumpang sebaik ini bikin saya ikut membatin, "Luar biasa nih bapak-bapak. Dia sendiri sudah berusia senja, tapi masih peka melihat siapa yang lebih butuh." Ya, ada keharuan melihat pemandangan seperti ini.Â
Tentunya bukan saya saja yang sering melihat dan menemukan pemandangan seperti ini. Di media sosial, banyak warganet yang juga saling berbagi cerita tentang kebiasaan baik yang menggugah perhatian mereka di KRL dan transportasi umum lainnya.Â
3. Peka perubahan
Setiap hari akan ada saja perubahan yang bisa dilihat saat bepergian dengan KRL. Pemandangan di stasiun hari ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Juga pemandangan di dalam gerbong kereta itu sendiri, selalu ada hal menarik dan mengentalkan pesan perubahan itu sendiri.
Buat saya sendiri, Stasiun Palmerah menjadi stasiun paling akrab sejak awal memilih hidup di ibu kota. Awalnya perjalanan ke arah Rangkasbitung terkadang terusik dengan perlintasan dan kecelakaan di sana, sekarang menjadi lebih lancar tanpa ada lagi perlintasan tanpa gangguan. Sebelumnya, Palmerah saja ada perlintasan di dekat stasiun hingga di Patal Senayan yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer.Â
Di luar itu, kebiasaan orang-orang sekarang lebih patuh dengan antrean pun semakin akrab dengan keseharian.Â
4. Lebih sehat
Anak-anak tangga di Stasiun Palmerah, Tanah Abang, hingga Stasiun Bekasi, buat saya pribadi menjadi sebuah catatan tersendiri. Menaiki anak-anak tangga stasiun ini mengakrabkan dengan kebiasaan sehat, untuk banyak bergerak, dan membantu kaki menjadi lebih terlatih dan kuat, tentunya.Â
5. Melatih mental
Sosok seperti Adrian Maulana dan semua penumpang KRL dan kendaraan umum lainnya, sehari-hari melatih banyak mentalitas positif di dalam kereta atau bahkan di dalam stasiun.Â
Bisa jadi, terutama figur-figur yang memang memiliki berbagai kelebihan seperti seleb tersebut, salah satu alasannya membiasakan diri mengandalkan transportasi umum juga untuk membangun mentalitas positif itu.
Ini juga dikuatkan lagi dengan caption di unggahan media sosialnya yang mencerminkan perhatiannya terhadap masalah mentalitas tersebut. Kaya itu status, sederhana itu sikap hidup!
_____
Catatan: Artikel ini adalah bagian dari rencana 100 hari 100 cerita: Ini Inspirasi Hidup di Stasiun KRLÂ tentang commuter line yang saya gagas untuk semakin mengakrabkan publik dengan cerita keteladanan dari transportasi umum.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI