Miris, sampai detik ini, di tengah pandemi corona dan sepak bola sedang diliburkan, di grup-grup perkumpulan/festival/turnamen/kompetisi/liga sepak bola, khususnya kelompok sepak bola akar rumput, yang ada di media sosial, terutama whatsapp (app), masih "sangat sering" saya temukan komentar dan permintaan, baik oleh admin/operater/anggota grup yang  tak "senafas" karena berbaur pengurus, orangtua, pembina, pelatih dll, agar tidak memposting, menyebar, meneruskan informasi (gambar/video/berita/artikel dll) di luar sepak bola, di luar kepentingan grup tersebut, dll.
Apalagi bila informasi yang di share menyoal politik dll. Bila kebetulan yang memposting artikel adalah saya, dan itu artikel memang saya tulis terkhusus untuk pembelajaran "orang-orang" yang berkecimpung di pembinaan dan pelatihan sepak bola akar rumput, sekadar untuk bahan bacaan atau wawasan menambah pengetahuan, lalu ada yang memberi komentar "jauh dari ekspetasi", maka saya akan dengan rela hati langsung men"japri" yang bersangkutan.Â
Kemudian coba sharing dan diskusi kecil, mengapa "dia" berkomentar begitu? Maka saya bahas agar tidak gagal paham, dan berpikir ke depan.Â
Sepak bola=taktik, intrik, politik!Â
Sepak bola itu permainan yang bila dimainkan di lapangan akan penuh dengan taktik dan intrik yang tentu penuh dengan politik. Sementara di meja organisasinya, di PSSI, hingga kini sangat penuh dengan "politik" kepentingan.Â
Mengapa sampai sekarang masih banyak manusia yang mengelola sepak bola akar rumput dengan bekal "polos-polos" saja? Tanpa bekal keilmuan yang cukup dan memadai, dan dibiarkan saja?Â
Jujur saya sedih dengan kondisi ini. Terlebih, banyak grup-grup ygan menampung "manusia-manusia" yang sangat berkepentingan membina dan mendidik anak-anak di akar rumput (usia dini dan muda), yang menggilai sepak bola.Â
Bahkan atas kondisi ini, belum ada stakeholder terkait, yang mencoba mengulik hal ini, membahas hal ini, apalagi memberikan program edukasi pada "mereka".Â
Tahukah PSSI, sebagai induk organisasi sepak bola Indonesia menyoal ini? Bahkan sepanjang 90 tahun PSSI berdiri, baru Shin Tae-yong yang berani jujur, bahwa passing pesepak bola Timnas Indonesia "payah". Dan, akhirnya mengerucut masalah, kesalahan sudah dari dasar. Dasar itu siapa? Berarti sepak bola akar rumput.Â
Lalu, di grup-grup wa sepak bola akar rumput, para anggotanya juga hanya berpikir sepak bola dan sepak bola saja, tanpa mau dicampur aduk dengan hal lain. Pemikirannya "sangat sempit" dan hanya berpikir sepak bola hanyalah teknik dan speed.Â
Lalu, bergelut di dalamnya hanya dengan bekal sebagai mantan pemain atau cuma sekadar hobi. Tak mau menjadi "pembelajar", malas membaca, melihat informasi berita/artikel hanya membaca judulnya, mau yang praktis-praktis saja. Mau yang tidak rumit, mau yang ringan-ringan saja dll.Â