Mohon tunggu...
putri fadillah bilondatu
putri fadillah bilondatu Mohon Tunggu... Lainnya - lainnya

saya merupakan mahasiswa psikologi dari salah satu universitas di gorontalo

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Menyelami Dinamika Sosial Dalam Bingkai Budaya

16 Desember 2024   20:59 Diperbarui: 17 Desember 2024   14:46 90
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Penulis:  Putri Fadillah Bilondatu, Naysila Ramadhanti Kilis, Nurhayati M. Napu,  Mohammad Rizki B. Dunggio, S.Psi., M.Psi., Psi  Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Gorontalo

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan interaksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari (Nurlina et al., 2024). Komunikasi, kerja sama, dan hubungan sosial menjadi bagian penting dari proses kehidupan manusia. Dalam dinamika ini, budaya memainkan peran penting dalam membentuk cara kita berinteraksi, memahami diri sendiri, serta memandang orang lain (Dayakisni & Yuniardi, 2022). Sebagai negara multikultural, Indonesia memiliki keberagaman aturan, norma, dan nilai sosial yang membentuk pola perilaku masyarakat. Pemahaman terhadap perbedaan ini menjadi kunci dalam menjaga keharmonisan, terutama di era modernisasi yang dipengaruhi oleh globalisasi dan teknologi.

Peran Budaya dalam Self-Monitoring

Salah satu konsep yang relevan dalam memahami dinamika sosial adalah self-monitoring atau pemantauan diri, yaitu kemampuan seseorang untuk mengamati dan menyesuaikan perilakunya sesuai dengan situasi sosial (Fitri, 2021). Menariknya, tingkat self-monitoring dipengaruhi oleh budaya:

Dalam budaya individualistis seperti di Amerika, individu memiliki kebebasan untuk mengatur dan menyesuaikan diri dengan situasi sosial yang berbeda sesuai dengan kebutuhan atau keinginan pribadi. Mereka lebih mengutamakan kemandirian dan kebebasan untuk memilih hubungan sosial, pekerjaan, dan gaya hidup. Hal ini membuat mereka lebih fleksibel dalam beradaptasi dengan berbagai lingkungan, baik itu di tempat kerja, komunitas, atau dalam pertemanan. Keputusan pribadi lebih didasarkan pada preferensi individu daripada tekanan dari kelompok, yang memberi mereka kemampuan untuk berpindah atau berubah sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Dalam budaya kolektivis seperti di Asia, perilaku individu lebih dipandu oleh norma kelompok dan komitmen terhadap harmoni sosial. Anggota kelompok diharapkan untuk mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, menjaga hubungan yang harmonis, dan menghindari konflik. Setiap tindakan, baik dalam keluarga, komunitas, atau tempat kerja, sering kali mencerminkan nilai-nilai kelompok. Individu merasa terikat untuk mempertahankan kehormatan kelompok dan menjaga keselarasan agar hubungan tetap erat dan stabil. Komitmen terhadap kelompok ini menguatkan ikatan sosial dan kebersamaan dalam budaya kolektivis.

Perbedaan ini menunjukkan bagaimana budaya membentuk cara individu menyesuaikan diri dalam interaksi sosial, baik dalam lingkup pribadi maupun kelompok.

Dinamika In-Group dan Out-Group dalam Budaya

Dalam ilmu sosial, hubungan antar kelompok dibagi menjadi in-group (kelompok dalam) dan out-group (kelompok luar). In-group mencakup individu-individu yang kita kenal dekat, merasa nyaman, dan percaya, sedangkan out-group sering kali dikaitkan dengan jarak emosional atau bahkan perasaan negatif (Dayakisni & Yuniardi, 2022).

Budaya memengaruhi pemahaman tentang in-group dan out-group:

Dalam budaya individualistis, keanggotaan dalam kelompok (in-group) bersifat fleksibel dan beragam. Individu bebas bergabung atau keluar dari kelompok berdasarkan minat dan kebutuhan pribadi tanpa tekanan sosial yang kuat. Contohnya, seseorang dapat bergabung dengan klub olahraga atau komunitas hobi, lalu pindah ke kelompok lain jika merasa tidak lagi cocok. Hubungan dalam kelompok lebih didasarkan pada kesamaan tujuan daripada kewajiban atau ikatan emosional yang kuat, berbeda dengan budaya kolektivis yang lebih menekankan keterikatan tetap dan tradisional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun