Tetiba saya tertarik menuliskan pendapat dan pilihan saya tentang nama-nama bakal Calon Presiden 2024, meski pesta rakyat untuk memilihnya masih 2 tahun lagi.
Gaung dan semangat memilih calon terbaik untuk memimpin negeri ini telah santer diperbincangkan, baik kalangan emak-emak, bapak-bapak, para akademisi dan tentunya para politisi. Nah, apalagi para pembaca dan Kompasianer, dalam hati siapa tahu sudah mempersiapkan pilihannya.
Sebelum saya membaca artikel dari Kompas.com dan Kompas TV melalui internet, secara tak sengaja, saya mengikuti berita dan pembahasannya melalui televisi. Senyum senang mewarnai wajah saya, karena beberapa tokoh yang disebut oleh pembaca berita adalah tokoh yang saya taksir menjadi pemimpin Indonesia.
***
Sebagai orang awam yang punya pemahaman secuil tentang dunia politik, saya mencari tahu terlebih dulu, apa sih Elektabilitas?
Elektabilitas adalah tingkat keterpilihan atau ketertarikan publik dalam memilih sesuatu, baik itu seorang figur, lembaga atau partai, maupun barang dan jasa dimana informasi tersebut didapatkan dari hasil berbagai survei.
Secara bahasa istilah elektabilitas ialah hasil serapan dari Bahasa Inggris yaitu electability yang artinya keterpilihan.
Nah, bagi seorang figur, keterpilihan tersebut diantaranya karena dikenal baik oleh masyarakat luas, terbukti memiliki kinerja yang baik, memiliki prestasi di bidang tertentu, dan memiliki rekam jejak yang positif di bidangnya.
Namun ternyata, Elektabilitas itu berbeda lho dengan popularitas, meski keduanya saling terkait. Popularitas ialah tingkat keterkenalan suatu objek “barang, jasa, seorang figur dan lembaga” di mata masyarakat sedangkan elektabilitas ialah tingkat keterpilihan objek yang dimaksud.
Jadi, meski seorang figur populer atau terkenal di masyarakat, tapi belum tentu memiliki tingkat keterpilihan untuk menjadi pejabat publik. Pun sebaliknya, seseorang yang punya elektabilitas mungkin saja tidak dipilih karena tidak populer di mata masyarakat.