Mohon tunggu...
SISKA ARTATI
SISKA ARTATI Mohon Tunggu... Guru - Ibu rumah tangga, guru privat, dan penyuka buku

Bergabung sejak Oktober 2020. Antologi tahun 2023: 💗Gerimis Cinta Merdeka 💗Perubahan Itu Pasti, Kebajikan Harga Mati - Versi Buku Cetak 💗 Yang Terpilih Antologi tahun 2022: 💗Kisah Inspiratif Melawan Keterbatasan Tanpa Batas. 💗 Buku Biru 💗Pandemi vs Everybody 💗 Perubahan Itu Pasti, Kebajikan Harga Mati - Ebook Karya Antologi 2020-2021: 💗Kutemukan CintaMU 💗 Aku Akademia, Aku Belajar, Aku Cerita 💗150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi 💗 Ruang Bernama Kenangan 💗 Biduk Asa Kayuh Cita 💗 55 Cerita Islami Terbaik Untuk Anak. 💗Syair Syiar Akademia. Penulis bisa ditemui di akun IG: @siskaartati

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Lempar Batu, Sembunyi Tangan

20 Januari 2021   17:07 Diperbarui: 21 Januari 2021   04:17 1936
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi gambar: https://roestes.web.app/

Sepulang sekolah, selalu ada cerita baru dari mulut Daniar. Gadis kecil ini berceloteh riang kejadian yang dialaminya kepada Ibu. Wanita paruh baya yang selalu tampak ayu di mata gadis bungsunya, dengan telaten menyimak, meski tengah sibuk menyiapkan makanan dan masakan di dapur. Mbok Sumi sesekali tertawa mendengar cerita Daniar. Karena Ndoro Putrinya bercerita sambil mengatur napas.

"Nduk, kalau lagi ngomong, jangan cepet-cepet. Nanti ya begitu deh, jadi keblibet, napasmu tersengal-sengal. Pelan-pelan aja," ujar Ibu  melempar senyum.

"Emang kecepetan ya, kalau Niar lagi cerita?" sahutnya polos.

"Den Niar nih, masih aja ngeyel, lha kan sudah dibilangin sama Ibu," balas Mbok Sumi.

Gadis itu tertawa terkekeh-kekeh mengacungkan jempol kanan, sambil mengelus-elus Ciki, kucing kesayangannya.

"Niar suka berteman sama Resti, Bu. Anaknya baik, pinter, tidak pelit. Kalau dia bawa permen, Niar selalu dikasih. Temen-temen lain juga, meski tidak semuanya. Karena Resti cuma bawa sedikit aja. Terus, kalau ada pelajaran menyanyi, dia selalu ajak Niar maju ke depan bersama-sama. 'Karena suaramu tidak fals', begitu kata Resti, Bu."

"Alhamdulillaah, syukurlah kalau kamu punya kawan baik seperti Resti. Kamu juga harus baik kepadanya. Juga kepada kawan-kawan yang lain. Kalau Niar berbuat baik kepada teman, maka in syaa Allah teman pun berbuat baik kepada kita, Nduk. Ternyata, sekolah itu menyenangkan, kan?"

Daniar mengangguk mantap. "Tapi, Bu. Ada juga temenku yang nakal. Masa ada yang mengunyah permen karet, terus bekas kunyahannya ditempel di kursi. Pas temenku duduk, kan dia ga liat tuh ada bekas permen karet di situ. Nah, ketika berdiri, rok nya lengket, Bu. Jadi kotorlah! Temenku menangis karena roknya banyak lengketan. Bu Atik membantu membersihkan, tapi tetap saja takbersih karena masih ada bekasnya."

"Waduh, kok ada temen yang begitu, Nduk? Terus, apa kata Bu Guru Atik?", Ibu mengernyit. Menggeleng kepala membayangkan ulah anak-anak.

"Bu Guru bertanya ke seluruh anak di kelas, 'perbuatan siapa ini?'  tapi tidak ada yang mengaku. Akhirnya, kami semua dihukum membersihkan kelas, mengelap semua barang pajangan, dibagi per kelompok."

"Itulah hukuman bagi anak-anak yang berbuat iseng dan harus bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya, Nduk." sahut Ibu menasehati gadis bungsunya.

"Tapi, kan, yang melakukan bukan Niar dan Resti, Bu. Masa kita semua dihukum, sih?" keluhnya kesal. "Harusnya yang dihukum itu yang memasang jebakan permen karet!" Gadis itu mendengus kesal. Memasang wajah cemberut.

"Iya, benar. Sayangnya, diantara teman-temanmu tidak ada yang mengaku dengan jujur, Nak. Makanya semua kena hukuman. Maksud Bu Guru, supaya ada yang mengakui perbuatan jahilnya itu, Niar. Agar menjadi pelajaran bahwa melakukan hal seperti itu tidak baik, bisa merugikan orang lain. Tuh, rok temanmu jadi kotor."

"Ya, Bu. Mudah-mudahan besok ada yang mau mengaku. Kasian Rani, pulang sekolah roknya lengket gara-gara permen karet." Nada Daniar penuh iba.

"Ya, sudah. Segeralah makan! Bantu ibu bawa piring-piring ke meja makan ya, Nduk. Susun yang rapi. Sebentar lagi Bapak dan kakak-kakakmu pulang. Ibu bereskan dapur dulu."

"Baik, Ibu sayang." Lagi-lagi gadis kecil periang itu mengacungkan jempolnya, memasang mimik menggemaskan. Bergegas Ia membawa peralatan makan dari dapur ke ruang keluarga dan menatanya dengan rapi seperti yang biasa dilihatnya ketika ibu dan kakaknya menyajikan makanan di meja makan.

Mulai hari itu, di pekan awal pengalaman masuk sekolah, pelajaran berharga didapatkannya, bahwa perbuatan jahil itu tidak baik. Daniar mengangguk mantap, mengingat nasehat ibundanya dengan senyum mengembang.

***

Kisah Daniar sebelumnya, silakan simak disini.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun