Mohon tunggu...
rdsinta
rdsinta Mohon Tunggu... Freelancer - Content writer

| Bacalah untuk upgrade dirimu | Double Degree S1 Farmasi dan Sastra Inggris 2022, aktif dalam penulisan konten tentang berbagai informasi yang unik, menarik dan kekinian di sekitaran masyarakat | Instagram : @rdsinta_

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Tarung Sarung, Film Nuansa Tradisi Bugis Sulawesi Selatan

14 November 2024   14:58 Diperbarui: 14 November 2024   15:29 169
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Poster Film Sarung Tarung Via Starvision 

Film Tarung Sarung merupakan sebuah film garapan sutradara Archie Hekagery. Film ini dirilis pada tahun 2020 dimana dalam penayangannya di bioskop harus tertunda karena pandemi yang semula akan ditayangkan pada 2 April 2020, Tarung Sarung ini akhirnya resmi tayang secara ekslusif pada 31 Desember 2020 di Netflix. 

Film Tarung Sarung ini bergenre aksi, drama yang dibalut dengan nuansa religi dan memuat unsur-unsur salah satu budaya di Indonesia khususnya tradisi suku Bugis-Makassar. Film Tarung Sarung ini bukan sekedar film laga biasa karena dalam penayangannya film ini memberikan pesan moral tentang arti kehidupan. 

Film Tarung Sarung ini merupakan film produksi Starvision yang dibintangi oleh Panji Zoni sebagai pemeran utama dimana film ini menjadi film debut pertamanya dalam karir di dunia perfilman Indonesia. Dibintangi pula oleh aktor seni bela diri terkenal yaitu Yayan Ruhiyan yang merupakan salah satu aktor bela diri pencak silat yang berperan sebagai Pak Khalid legenda Tarung Sarung di daerahnya.

Sinopsis Singkat Film Tarung Sarung

Film Tarung Sarung ini mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Deni Ruso dimana dalam kehidupannya dirinya mengalami perjalanan batin yang membuatnya berubah. Deni Ruso yang diperankan oleh Panji Zoni adalah seorang pemuda yang terlahir dalam keluarga kaya raya nomor 3 se-Indonesia. Terlahir di keluarga Ruso dan memiliki usaha Ruso Corp. 

Membuat Deni Ruso terjebak dalam situasi materialistik hingga dirinya percaya bahwa segala masalah dapat diatasi dengan bantuan uang. Sifat materialistik inilah yang membuat Deni Ruso awalnya tidak percaya akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Meskipun bergelimang harta, hidup Ruso ini seakan berantakan dan tak terarah. Namun, semuanya berubah ketika Deni Ruso terpaksa pindah ke Makassar sembari ditugaskan oleh ibunya untuk mengurus bisnis keluarga.

Ketika Deni di Makassar, secara tak sengaja ia bertemu dengan seorang gadis aktivis lingkungan bernama Tenri dimana Tenri ini merupakan seorang gadis Makassar yang membenci Ruso Corp. Sebagai kapitalis perusak lingkungan. Karena Deni tertarik dan penasaran dengan Tenri, membuat dirinya menyembunyikan identitas sebagai keluarga Ruso demi mendapatkan cinta Tenri. Namun sayangnya, hal ini menjadi masalah baru bagi Deni ketika Sanrego muncul. Sanrego merupakan juara bertahan bela diri Tarung Sarung dan tak pernah terkalahkan, dirinya tidak terima dengan kehadiran Deni karena menganggap Deni sebagai penghalang untuk Sanrego meminang Tenri. 

Konflik semakin memanas, dimana Sanrego tidak diterima oleh keluarga Tenri dan melampiaskan segalanya pada Deni. Karena merasa sakit hati, Sanrego pun menantang Deni untuk bertarung. Pergulatan cinta antara Deni dan Sanrego untuk mendapatkan Tenri semakin tak terkendali yang membuat Deni merasa tertantang untuk melakukan Tarung Sarung. Berbagai cara dilakukan Deni untuk bisa mengalahkan Sanrego hingga pada akhirnya Deni berguru pada Pak Khalid seorang penjaga masjid sekaligus legenda Tarung Sarung di daerahnya dan dari sinilah Deni juga belajar mengenal Tuhannya lagi.

Adegan Film Yang Berhubungan Untuk Memperkenalkan Tradisi Suku Bugis 

Adegan Tarung Sarung Via Starvision 
Adegan Tarung Sarung Via Starvision 
Dalam setiap adegan film yang disuguhkan, film Tarung Sarung ini kerap menampilkan bahasa asli Bugis yang dituturkan oleh para tokohnya. Terdapat juga adegan 'pindah rumah' atau 'Mappalette Bola' dengan memindahkan rumah adat yang digotong bersama-sama dimana hal ini merupakan suatu tradisi khas masyarakat adat Bugis yang menggambarkan bahwa masyarakat adat Bugis senang bergotong royong. 

Selain itu, dalam film ini pula disuguhkan dengan dialog sarat makna yang menyebutkan bahwa pria Bugis akan menyelesaikan masalah dengan berhadap-hadapan secara langsung dan tidak main keroyokan khususnya dengan mengadakan Tarung Sarung yang mengambarkan bahwa suku Bugis menjunjung tinggi harga diri pribadi. Tradisi-tradisi tersebut di representasikan dengan baik kepada penonton dalam film ini. 

Film ini juga cukup berhasil dari segi pengambilan alam Makassar. Lanskap pemukiman dan pemandangan yang ditampilkan sangat estetik dan menarik dalam menampilkan keindahan Sulawesi Selatan. 

Adegan tradisi 'Pindah Rumah' via starvision 
Adegan tradisi 'Pindah Rumah' via starvision 

Tarung Sarung merupakan turnamen bela diri yang diadaptasi dari salah satu budaya suku Bugis dan dikenal dengan nama Sigajang Laleng Lipa. Sigajang Laleng Lipa ini merupakan sebuah tradisi Bugis dalam menyelesaikan suatu masalah. Tradisi ini cukup ekstrem hingga dalam pelaksanaannya pasti akan memakan korban jiwa. 

Dikatakan ekstrem karena dalam pertarungannya, akan ada dua orang yang bertarung masuk ke dalam sebuah sarung yang masing-masing petarung akan dibekali oleh sebilah badik (Senjata tradisional Suku Bugis) kemudian para petarung akan saling tikam di dalam sarung tersebut. 

Dikatakan kalah apabila salah satu petarung menyerah, keluar bahkan sampai berujung pada kematian. Tarung sarung ini sebenarnya bukan ajang balas dendam. Tarung sarung ini dilakukan apabila ada ketidaksepakatan dalam musyawarah dan mufakat yang tidak menemui titik terangnya.

Dalam setiap adegannya, film Tarung Sarung ini memang sangat menarik karena mengacu pada ciri khas Budaya Bugis-Makassar mulai dari cara berkomunikasi, cara hidup diperantauan, toleransi antar umat beragama hingga idealisme para tokohnya tentang pandangan akan martabat dan harga diri. Dimana hal ini berkaitan dengan suku Bugis sebagai suku yang terkenal perantau dan sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat sehingga suku ini menghindari tindakan-tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. 

Dalam film ini, tradisi Sigajang Laleng Lipa dikemas dengan sesuatu hal yang berbeda yaitu dalam bentuk kompetisi atau kejuaraan bela diri. Dengan konsep inilah tradisi Sigajang Laleng Lipa tetap dapat tergambarkan dan tidak sampai merugikan kedua pihak apalagi menyebabkan kematian. Film ini pula menyelipkan banyak pesan moral bagi para penontonnya karena menyajikan pengalaman hidup yang penuh drama dalam mencari nilai-nilai sosial yang memperkaya batin.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun