Mohon tunggu...
Sinna Hermanto
Sinna Hermanto Mohon Tunggu... -

hm :)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

(Dari Macau) Emak, Bapak ... Aku sarjana!

21 November 2011   05:18 Diperbarui: 25 Juni 2015   23:24 404
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

[caption id="attachment_143673" align="aligncenter" width="300" caption="sumber : majalah IQRO"][/caption] Pahit manis perjalanan hidup akan datang dan pergi silih berganti. Adakalanya kita harus mengecap pahit dulu sebelum kita merasakan betapa manisnya makna dibalik rasa pahit yang kita kecap sebelumnya. Kalau kita tidak pernah merasakan sengsara, tentu kita tak akan menyadari kenikmatan Tuhan begitu dekat dengan kita. Toh perputaran roda dunia akan menggelindingkan kita pada kondisi yang fluktuatif, kadang naik kadang turun, kadang di atas kadang pula di bawah. Susah senang adalah bumbu kehidupan agar tercipta keharmonisan dan keseimbangan. Itulah yang kurasakan saat ini. Alhamdulillah, setelah melalui hari-hari panjang yang melelahkan, yang tak hanya menguras tenaga tapi juga fikiran dan dana, kini aku bisa tersenyum. Senyum tulus untuk diri sendiri dan keluarga terutama ayah dan ibu. Berakit-rakit ke hulu. Sewaktu sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan di Blitar, aku termasuk siswa yang memiliki nilai di atas rata-rata. Puncak dari prestasi ini malah membawaku pada nilai tertinggi saat lulus SMK. Bahkan pihak sekolah memberi kenang-kenangan untukku. Aku bisa tersenyum puas meski sebentar. Aku terpaksa mengubur mimpiku untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Harapku saat itu, aku tak hanya merasakan sebagai siswa tetapi juga sebagai mahasiswa. Tapi, lagi-lagi masalah klise karena tak adanya biaya, aku tak bisa melanjutkan pendidikanku. Dua adikku masih kecil dan butuh biaya sekolah juga. Tak mungkin rasanya aku mengorbankan masa depan mereka jika aku ngaya untuk kuliah. Maka, mengikuti arus yang sedang tren saat itu, aku merantau ke Singapura sebagai pekerja rumah tangga. Aku sudah niatkan bahwa hasil kerjaku ini hanya untuk kuliahku. Hanya sebagian saja yang aku berikan pada orangtuaku. Di Singapura, aku jalani dengan selalu belajar mentralisir perasaan. Aku mencoba menerima keadaan meski menyakitkan. Yang ada dalam prinsipku, aku hanya sementara di Singapura. Setelah cukup, aku akan segera angkat kaki! Tak mau aku berlama-lama di sana. Aku takut malah terlena dengan gemerlap dunia dan lupa pada tujuan awal. Benar, tak sampai dua tahun, aku minta pulang. Majikan sebenarnya menyayangkan kepulanganku. Tapi, majikanku yang seorang guru itu akhirnya merelakanku karena alasanku pulang adalah untuk melanjutkan sekolah. Akhirnya, aku mengejar ketertinggalanku dua tahun lalu. Sayangnya, ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru yang hanya tinggal satu kali itu tak menjaringku masuk PTN. Aku memutuskan mengambil D1 perhotelan di suatu lembaga pendidikan di Jember. Toh hanya satu tahun! Lagipula, kalkulasi dana ternyata tak sama dengan kenyataan di lapangan. Lulus dari sana, aku malah berhutang kepada saudara. Yang membuatku tak nyaman, saudaraku itu selalu saja menagih. Padahal dia tahu aku sedang mencari pekerjaan. Malas mendengar gunjingan yang membuatku semakin stres, aku berangkat ke Hong Kong. Aku tak mau membuat kesehatan orangtuaku terganggu karena memikirkanku. Aku sempat berkata dalam hati, bagaimana sih sebenarnya mekanisme perekrutan tenaga kerja di negeriku? Bagaimana sih mengatasi pengangguran dengan usia produktif berpendidikan tinggi yang jumlahnya bertambah setiap tahun? Aku jadi percaya kalau intelegensi tak selamanya membawa kesuksesan berkarir. Di Hong Kong, pekerjaanku tidaklah seberat di Singapura, hanya menjaga seorang anak SD dan pasutri. Namun, karena rumah yang sempit inilah, tiap sudut selalu dicek olek majikan. Kadang-kadang ada rasa tak nyaman! Tapi, sebagaimana caraku meredam perasaanku di Singapura, begitu pula cara yang kupakai di Hong Kong. Singkat cerita, aku finis kontrak dengan nilai baik. Aku segera mencari majikan baru untuk menikmati suasana dan lingkungan kerja yang baru pula. Tak apalah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Karena ada masalah keluarga, aku nge-break kontrak. Tapi sebelumnya aku telah meninggalkan uang jaminan pada agen agar mencarikan majikan saat aku di Indonesia. Tak lama, aku kembali lagi ke Hong Kong. Sebelumnya, orantuaku mewanti-wanti agar aku lebih berhati-hati dalam bekerja. Karena kondisi kerja yang berat, rumah 5 lantai di Sai Kung dan adaptasi dengan majikan yang belum terjalin baik, aku kena terminit/ PHK. Tetapi, aku belum siap meninggalkan Hong Kong. Aku memilih menunggu majikan di Macau. [caption id="attachment_143679" align="alignleft" width="300" caption="suasana graduation di Caritas Communit Hall of Saint Mary"][/caption] [caption id="attachment_143680" align="alignleft" width="300" caption="group paduan suara dan beberapa dosen "][/caption] Aku Pun Tersenyum. Aku yang terlalu lama menunggu di Macau, jadi terbiasa dengan keadaan di sana yang lebih tenang, lebih slow yang jauh berbeda dengan Hong Kong yang super sibuk. Aku memutuskan menjadi pekerja rumah tangga di sana karena tak segera mendapat majikan di Hong Kong. Aku memilih tempat kerja yang bisa memberiku rasa aman meski majikanku adalah siu nai-nai yang tak perlu bekerja dalam artian hanya mengawasiku bekerja dari pagi hingga malam. Ah, ini lebih baik daripada kucing-kucingan di luaran sebagai pekerja ilegal. Suatu ketika, temanku mengabariku kalau di Hong Kong ada Saint Mary's University, sebuah universitas dimana buruh migran Macau sepertiku bisa masuk. Di Macau pun bisa maju seperti teman-teman di Hong Kong, pikirku. Namun, fakultas pun terbatas pada managemen bisnis. Aku yang sudah terlewat beberapa kali pertemuan, mati-matian mengejar ketertinggalan. Aku habiskan waktu istirahat sekitar jam 23:00-an untuk mengerjakan tugas. Tugas kelompok pun kami lakukan di rumah majikan masing-masing dan berkomunikasi via SMS. Bahkan, 14 mahasiswa Macau hanya bisa bertatap muka sebulan sekali dengan sang dosen. Namun, dengan kesulitan dan hambatan semacam ini, makin melecut semangat belajarku untuk berusaha dengan maksimal. Untunglah, meski kerjaku diawasi, aku masih memiliki privasi. Aku punya kamar sendiri di lantai dasar yang mana 'kemewahan' ini tak kudapatkan dari ketiga majikan Hong Kongku. Bahkan aku memiliki laptop sebagai sarana untuk mempermudah belajarku. Setelah tiga tahun lebih, akhirnya tanggal 11 September 2011, aku wisuda. Hambatan bahasa yang digunakan, yakni bahasa Inggris bisa aku siasati dengan ikut les bahasa Inggris meski aku telah memiliki basic conversation saat bekerja di Singapura. Membuka Taman Baca. Ingin rasanya aku segera berlari ke hadapan orantuaku dan menunjukkan pada mereka bahwa putri mereka telah menjadi sarjana. Ingin kubagi kebagaian ini kepada adik-adikku. Aku tak mau egois, makanya aku ingin berbagi ilmu yang kudapat dengan mengajarkan kepada muridku nanti. Lagipula saat ini adikku sudah bekerja. Tinggal pendidikan si bungsu saja. Satu mimpiku yang saat ini sedang dalam pencapaian. Aku ingin membuka taman bacaan di kampungku. Meski tak harus di sekolah, toh ilmu bisa didapat di mana saja, termasuk dengan membaca. Ya, akan aku sebarkan virus gemar membaca ini agar generasi muda di kampungku menjadi generasi yang berpengetahuan luas. Bismillah. [caption id="attachment_143682" align="alignleft" width="300" caption="yuni, 2 dari kiri, bersama sarjana Macau dan Nigeria"][/caption] Seperti yang diceritakan Yuni kepada Risna.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun