Dear Sayang,
Hari ini genap empat puluh hari kamu pergi.Â
Dalam kurun waktu empat puluh hari kemarin, tidak terhitung berapa banyak airmata mengalir karena kepergian kamu.Â
Karena penyesalan-penyesalanku, karena janji yang belum terwujud, karena rencana yang tidak terjadi, karena tidak mampu memutar waktu, karena cinta yang terenggut.
Memandang tubuh kamu yang kaku empat puluh hari yang lalu, pilu rasanya.
Di sisi lain, ada kelegaan, kamu sudah bebas dari sakit.Â
Di sana kamu bisa minum kopi lagi, bisa minum orange jus lagi, dan semua hal yang kamu suka, namun tak bisa kamu nikmati selama sakit menghampiri tubuhmu.
Dua sisi perasaan bertolak belakang berkecamuk jadi satu.
 Ini toh rasanya kehilangan, ini rasanya tidak berdaya, ini rasanya pasrah, ini rasanya otak blank, ini rasanya damai...
Belajar menerima semua itu mudah diucapkan, sedangkan sakitnya sulit dibendung.