Mohon tunggu...
Silvia Nur Laili
Silvia Nur Laili Mohon Tunggu... Lainnya - Silvia Nur Laili-Mojokerto

Hello guys, welcome to my kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Ketangguhan Seorang Anak dalam Menjalani Kehidupan

27 Mei 2022   16:34 Diperbarui: 27 Mei 2022   16:37 184
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Halo semua!

Kembali lagi dengan artikel laman kompasianaku, pada artikel kali ini mungkin sedikit berbeda karena disini saya akan menceritakan ketangguhan seorang anak yang duduk di bangku SMA yang rela bekerja demi mencukupi kebutuhan hidupnya.

Mungkin bagi sebagian orang, hidup tidaklah mudah untuk dijalani dan terasa keras. Meskipun demikian, sekeras apapun dan sepahit apapun kehidupan harus tetap dijalani. Dengan berhasilnya kita melewati tantangan kehidupan dan menyelesaikan masalah, menjadikan kita tumbuh menjadi pribadi tangguh dan ksatria.

Cerita ini saya ambil dari wawancara saya bersama seorang anak yang duduk di bangku SMA meskipun masih berusia 16 tahun, namun anak ini sangat tangguh. Anak tersebut bernama Bagus, ia bekerja sebagai tukang harian di sebuah home industri sepatu.

Bagus namanya, ia anak seorang anak buruh tukang cuci dan setrika, sedangkan ayahnya meninggal karena terkena penyakit stroke saat Bagus berusia 13 tahun. Meskipun ia tidak lagi memiliki seorang ayah, namun Bagus berusaha sebaik mungkin agar bisa menggantikan figur seorang ayah dalam keluarganya. Bagus memiliki 2 orang adik yang saat ini duduk di bangku SD dan SMP. Bagus sangat sayang sekali kepada adik-adiknya.

Setiap hari Bagus bekerja menjadi tukang harian pada home industri sepatu, hal ini ia lakukan agar bisa menyenangkan hati adik adiknya dan membantu perekonomian keluarga. Ibunya hanya seorang buruh cuci dan setrika ke rumah rumah tetangga, dengan hasil pendapatan yang tak menentu. 

Selain itu, jika tidak ada pekerjaan cuci dan setrika, Ibu Bagus juga membuat kue untuk dijual , kedua adiknya juga ikut membantu menjualnya. Terkadang jika penyakit asma ibunya kambuh, beliau sudah tidak kuat lagi untuk bekerja.

Saat ini, Bagus duduk di bangku SMA kelas 2, setiap pagi ia berangkat ke sekolah, Bagus biasanya pulang dari sekolah pukul 1 siang. Setelah itu Bagus tidak langsung pulang kerumah seperti anak anak lainnya, akan tetapi ia langsung berangkat bekerja menjadi tukang harian. Saat berangkat sekolah ia sudah membawa pakaian ganti dan bekal untuk bekerja nanti sorenya, hal ini sudah menjadi rutinitas Bagus selepas pulang sekolah.

Bagus selalu memakai sepeda pancal miliknya untuk bersekolah dan bekerja, ia tidak iri kepada teman teman sebayanya yang sudah memakai sepeda motor saat kemana mana, karena Bagus memiliki fikiran untuk memperbaiki perekonomian keluarga dahulu. Bagus sangat ingin menyenangkan hati adik adiknya, biasanya ketika gajian Bagus membelikan kebutuhan sekolah dan kebutuhan sehari hari untuk adik dan keluarganya.

Meskipun terasa berat, namun Bagus dan adik adiknya ikhlas dalam menjalaninya. Perasaan malu mereka buang jauh jauh, demi memperbaiki perekonomian keluarga. Kedua adik Bagus biasanya membantu Ibunya untuk menjual kue, dengan menitipkan kue tersebut kepada pedagang di kantin sekolah mereka dan penjual kue keliling. Mereka mengawali berangkat ke sekolah lebih awal agar bisa membantu Ibunya menjual kue kue tersebut.

Sudah hampir dua tahun Bagus menjalani pekerjaan ini, awalnya Bagus tidak bekerja saat duduk di bangku SMP karena pendapatan Ibunya masih cukup membiayai Bagus dan kedua Adiknya untuk bersekolah dan memenuhi kebutuhan sehari hari. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun