Mohon tunggu...
Sowi Muhammad
Sowi Muhammad Mohon Tunggu... -

Menulis dengan intuisi tanpa teori

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jokowi Siapkan Arena Prabowo vs Megawati

30 Januari 2015   16:26 Diperbarui: 17 Juni 2015   12:06 1559
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Dalam percaturan politik Indonesia, Prabowo sering melakukan kerjasama dengan Megawati. Mulai dari berpasangan di Pilpres 2009, hingga koalisi PDIP-Gerindra di Pilgub DKI Jakarta 2012 dengan mengusung pasangan Jokowi-Ahok. Namun, dari kerjasama itu Prabowo kerap dipecundangi Megawati.


Pada Pilpres 2009, Prabowo menjadi 'kambing hitam' kegagalan pasangan Mega-Pro. Kubu Mega menilai, Prabowo tidak konsisten dengan tugas pemenangan yang telah disepakati. Disebutkan, kubu Mega bertugas di jalur darat yakni melalui jaringan PDIP yang telah mengakar kuat di daerah. Sedangkan, Prabowo bertugas di jalur udara yakni melalui iklan di media.


Di Pilgub DKI 2012, Prabowo dan Megawati kembali bekerjasama dengan mengusung pasangan Jokowi-Ahok. Lagi-lagi, Prabowo banyak berperan melalui jalur udara dengan gencarnya iklan di media. Prabowo juga memanfaatkan momen kampanye Pilgub DKI untuk meningkatkan popularitasnya dengan mendompleng Jokowi yang sedang naik daun.


Setelah Jokowi-Ahok menang atas incumbent Fauzi Bowo-Nahrowi Ramli, lagi-lagi Prabowo harus menelan pil pahit. Megawati menyebut ada 'penumpang gelap' dibalik terpilihnya Jokowi menjadi DKI 1. Penumpang gelap itu diartikan publik ditujukan Mega ke Prabowo dan Gerindra yang memang sedang berjuang mendongkrak popularitas untuk menghadapi Pemilu dan Pilpres 2014.


Yang teranyar, Prabowo menjadi pecundang setelah Megawati 'mengkhianati' perjanjian batu tulis yang salah satunya menyepakati Megawati akan mendukung Prabowo di Pilpres 2014. Hingga akhirnya, Megawati memilih Jokowi-JK sebagai 'petugas partai' di Pilpres dan menumbangkan Prabowo-Hatta.


Prabowo melalui koalisi merah putih (KMP) balas mempecundangi Megawati bersama koalisi indonesia hebat (KIH) dalam menguasai pimpinan DPR, MPR dan alat kelengkapan dewan. Namun, makna 'pembalasan' ini kurang mendalam jika dipandang dari kaca mata pertarungan politik dua politisi, Prabowo vs Megawati. Dalam skenario politik KMP, peran Abu Rizal Bakrie lebih menonjol dari Prabowo.


Kini, setelah 100 hari kepemimpinannya, Presiden Jokowi mulai merasa tidak nyaman menjadi 'petugas partai'-nya Megawati yang menjadikannya sebagai 'boneka'. Jokowi mengharapkan bantuan Prabowo untuk menghadapi kekuatan politik Megawati. Jokowi telah menyiapkan arena pertempuran politik dan menawarkan Prabowo untuk bermain.


Kesempatan untuk menambah poin kemenangan politik atas Megawati ini pun tidak disia-siakan Prabowo. Dia menyanggupi untuk 'bermain' dalam pertandingan yang diskenariokan Jokowi. Kekuatan politik dan kesolidan KMP serta euforia kemenangan beruntun KMP atas KIH, membuat Prabowo optimis menghadapi pertandingan ini.


Mampukah Prabowo menambah rekor kemenangan politik atas Megawati? Atau Megawati yang mempecundangi Prabowo? Pertarungan politik yang sangat menarik untuk disaksikan melebihi panasnya pertandingan rival abadi Barcelona vs Real Madrid.

Artikel Terkait:

1. www.kompasiana.com/post/read/699060/3/sandera-prabowo-jokowi-tinggalkan-megawati.html

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun