Saya masuk gedung informasi sejarah pak Harto dengan perasaan kagum dan akrab. Yang membuat saya kagum yaitu ternyata pak Harto pernah mengalami hidup sebagai anak-anak di kawasan pedesaan Sedayu yang jauh dari kota Jogja namun bisa menjadi Presiden Republik Indonesia yang sangat luas wilayahnya. Kedua, keakraban keluarga inti pak Harto yang dipajang dalam foto-foto di emperan museum memperlihatkan kehidupan rukun ala keluarga Jawa yang mengutamakan kesatuan keluarga.
Setelah melihat isi museum saya lalu mendatangi sebuah sumur di pojok rumah. Sumur timba berkedalaman sekitar empat meter itu airnya terlihat bening. Di dasar sumur yang dilapis semen, tampak sejumlah koin dan lembaran uang dua ribuan. Di sebelah sumur juga tampak empat buah gentong (gerabah tempat menampung air) yang diberi pancuran. Barangkali air dalam genthong itu disediakn bagi pengunjung yang ingin ‘mencicipi’ kesegaran air sumur di rumah pak Harto.
Akhirnya tepat pukul 17.00, kami sekeluarga keluar dari area ‘Monument Rumah Bapak Suharto’ untuk kembali ke rumah. Hujan rintik-rintik mengiringi ayunan kaki kami menuju ke lokasi parker kendaraan yang berseberangan dengan rumah pak Harto.
Minggu, 6 Desember 2015.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H