Ketika mengalami jatuh sakit dengan kategori kritis, dunia bisa terasa runtuh tiba-tiba, tak tahu lagi apa yang bisa dilakukan. Saya mempunyai pengalaman nyata, seorang sahabat terkena sakit gagal ginjal stadium lanjut, ia terpaksa secara rutin melakukan perawatan cuci darah seminggu sekali. Tadinya badannya penuh berisi, sejak jatuh sakit badannya habis, ibaratnya tinggal tulang dan kulit.
Setiap bertemu, saya merasa sedih melihat penderitaannya fisiknya, belum lagi harta benda berharga di rumahnya perlahan mulai dijual untuk membiayai perawatannya. Saya mendengar ia telah menjual tanah warisan dari keluarganya untuk membiayai perawatan cuci darah pada setiap minggu, setelah berlangsung beberapa bulan uangnya tak lagi mencukupi untuk membiayai pengobatan.
Kebetulan sahabat saya ini seorang pegawai honorer di sebuah kantor Kelurahan, akhirnya harus berhenti bekerja dan kehilangan penghasilan rutin, fisiknya tak mendukung lagi untuk bekerja. Dari kasus ini, saya belajar bahwa serangan penyakit atau jatuh sakit bisa secara tiba-tiba tanpa kita tahu kapan.
Penyakit Penyebab KematianÂ
Bila mengintip hasil penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam 5 tahun ke belakang penyebab kematian utama bukanlah penyakit gagal ginjal tapi jantung. Tidak berarti penyakit ini tidak berbahaya, sama berbahaya dengan penyakit kritis lainnya yang bisa memperpendek harapan hidup seseorang.
Masih banyak penyakit kritis lainnya, berdasarkan rangkuman hasil penelitian dari WHO dan Kementerian Kesehatan RI terakhir, penyakit jantung, stroke, kanker, paru-paru, TBC mendominasi penyebab kematian di Indonesia. Peluang terkena penyakit-penyakit ini pun makin besar, di dunia menurut riset Accident Claims Advice pada tahun 2017, peluang terkena serangan jantung dan kanker satu dibandingkan tujuh kesempatan.
Menurut catatan Kepolisian, pada tahun 2017 terjadi kecelakaan sebanyak 103.649 kejadian, dimana sebanyak 30.684 orang meninggal dunia. Artinya risiko cacat atau meninggal dunia tak hanya dari penyakit kritis tapi juga dari jalan raya dimana kita setiap hari menggunakannya untuk aktivitas kehidupan rutin.
SolusiÂ
Memang tidak selamanya kita akan hidup di dunia, semua orang akan meninggalkan dunia ini baik yang kaya atau miskin, persoalannya bagaimana cara agar hidup kita berarti selama diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan. Hidup akan lebih baik bila dapat diberikan kesempatan melihat anak-anak kita sampai dewasa dan mandiri, apalagi bisa melihat cucu-cucu.
Tentu sebuah kemewahan hidup tak ternilai bila kita tetap sehat, tidak terkena penyakit kritis sampai akhir hayat, sebab penyakit kritis dapat menyedot semua apa yang kita punya untuk penerus kita, seperti biaya pendidikan anak-anak.