"Wah mas sigit jangan kebanyakan olahraga, nanti tambah kurus lo".
"Sampeyan kok kelihatannya kurus banget ya Pak Sigit, memang berat badannya berapa sih terakhir".
"Maaf Pak Sigit, Anda masih belum bisa memenuhi syarat untuk mendonorkan darah".
Ya, begitulah kiranya respon dan komentar yang kerap kali saya dengar dari orang yang ada disekitaran saya, yang menyoal tentang tampilan fisik saya yang terlihat telalu kurus atau tidak ideal karena dianggap terlalu kerempeng.
Memang, terkadang sih komentar yang datang pada saya menyoal tentang kurus kerempengnya tubuh saya ini seringkali membuat saya sakit hati juga sih.
Kadang sampai ngomel juga dalam hati, apa sih sebenarnya urusan mereka ini sebenarnya, kok terlalu ngurusin tampilan fisik saya sih, kok ngurusin kekerempengan saya sih.
Tapi, ya sudahlah, saya harus bijak memakluminya, mungkin maksud mereka tidaklah seperti itu, justru mungkin maksudnya baik untuk mengingatkan saya agar juga perhatian pada diri sendiri.
Sehingga saya menganggapnya dengan sisi positif saja, yaitu sebagai saran dan kritik yang membangun dan memotivasi diri saya untuk tetap semangat dalam rangka mengidealkan berat badan saya ini dan perhatian pada diri sendiri.
Mungkin juga saya yang harus instrospeksi diri terkait pola makan harian saya, dan memang harus saya akui juga, pola makan saya masih kerap kurang teratur dan bahkan sesekali pernah kelupaan makan kalau sudah asyik bekerja ataupun aktivitas lainnya.
Namun yang paling membuat saya sedih itu adalah, saya tidak pernah bisa lolos donor darah karena secara umumnya kondisi fisik dan kesehatan saya tidak memenuhi syarat untuk donor.
Padahal sudah sering saya berharap dan sudah niat banget agar bisa donor darah, bahkan saya yakinkan petugasnya bahwa saya dalam kondisi fit dan sehat, tapi apa hendak dikata saya harus ikhlas menerima kenyataannya bahwa saya masih belum bisa memenuhi syarat untuk mendonorkan darah saya.
Alasannya kenapa saya tidak memenuhi syarat donor darah diantaranya seperti, para petugas tidak mau mengambil risiko terkait kesehatan saya karena tensi atau tekanan darah saya saya selalu 90/60 dan meski berat minimal adalah 45 Kg sedangkan saya 46 Kg,.
Namun, kondisi saya masih dianggap berisiko bila nekad mendonorkan darah, sehingga saya masih di anggap perlu asupan gizi dahulu dan minimal harus bisa mendekati berat badan normal sesuai idealnya tinggi badan saya yang 167 cm ini.
Ya sudahlah, saya akhirnya terima dan manut saja, memang sih untuk ukuran pria seperti saya, dengan tubuh kurus kerempeng ini cukup jadi tanda tanya, maka saya harus menyadarinya dan memakluminya bahwa saya sementara ini memang belum bisa memenuhi syarat mendonorkan darah.
Oleh sebab itulah, saya selalu berupaya mengonsumsi makanan yang memenuhi syarat asupan gizi, seperti halnya telur dan daging ayam, dua jenis makanan ini adalah wajib saya konsumsi untuk asupan gizi saya dan khususnya untuk menambah berat badan saya.
Apalagi menurut konsultasi dengan dokter dan berbagai referensi yang terpercaya, terkait bagaimana kandungan gizi, protein dan nutrisi lainnya bila mengonsumsi telur dan daging ayam ini, sangat bisa untuk menambah berat badan saya, dan semakin membuat tubuh sehat, tentu membuat saya yakin bahwa kalau kedepannya tetap rajin mengonsumsinya, saya bisa nggak kerempeng lagi.
Keinginan kuat saya untuk bisa menambah berat badan ini, selalu didukung oleh istri saya, oleh karenanya, istri saya selalu setuju dan selalu siap sedia menyediakan dua jenis lauk pauk ini selain jenis lauk pauk lainnya, apalagi juga telur dan daging ayam ini harganya masih cukup terjangkau kantong perekonomian keluarga.
Menu telur rebus, telur dadar, telur setengah matang, ayam goreng, opor ayam dan ayam kari, rutin disediakan istri saya secara bervariasi dalam setiap harinya.
Tak ketinggalan juga pola makan saya jadi didisiplinkan oleh istri, dan selalu dievaluasi dan instrospeksi bila ada pelanggaran pola makan dalam seharinya.
Tekad kuat saya untuk memperoleh nutrisi bagi kesehatan dan menambah berat badan ideal membuat saya semangat, dan terus disipilin terhadap pola makan saya.
Namun demikian, tentunya juga, saya tidak melupakan rutinitas olahraga, hal ini agar tetap ada keseimbangan bagi tubuh, sehingga tidak hanya menggenjot pola makan saja, tapi tetap juga harus diimbangi dengan olahraga yang rutin.
Ya, itulah sekiranya yang jadi pengalaman pribadi saya, yang bertekad untuk gemuk ini, atau menambah berat badan ini, dan bisa kedepannya memenuhi syarat untuk donor darah.
Mudah-mudahan saja, apa yang jadi keinginan saya ini bisa terwujud, sehingga saya tidaklah sekerempeng ataupun sekurus pandangan orang yang melihat tampilan fisik saya ini dan berat badan saya jadi ideal dengan tampilan fisik.
"Biarlah kurus kerempeng tapi saya tetap sehat, selalu sadar diri kalau memang tak bisa gemuk yang penting sudah berupaya untuk gemuk dan sehat, mudahan saya bisa gemuk".
Seperti itulah yang tercetus sebagai prinsip sekaligus moto dan motivasi saya dalam rangka menambah berat badan dan juga menjaga kesehatan tubuh ini.
Namun yang paling penting itu adalah, saya tetap mengutamakan kesehatan, sehingga saya tidak sekonyong-konyong hanya menggenjot pola makan saja, tapi tetap selalu memperhatikan kondisi kesehatan tubuh.
Demikianlah kiranya artikel ini, semoga kiranya dapat bermanfaat dan khususnya jadi motivasi bagi yang senasib dan sepenanggungan dengan saya.
Salam hangat.
Sigit Eka Pribadi.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI