Sering terjadi para atasan tidak dapat menguasai dan mengemban job desknya karena gagal membangun karakter dan kharismanya kepada para bawahan.
Sehingga sangat berpengaruh kepada lemahnya peforma, pengaruh dan wibawa para atasan yang kurang memberi dampak berarti kepada para bawahan. Oleh karenanya beberapa hal yang akan penulis jabarkan pada artikel ini semoga bisa jadi saran dan pertimbangan yang bermanfaat.
Tentang bagaimana caranya membangun dan mengembangkan kompetensi kepemimpinan dengan kekuatan penuh atau powerfull, agar jadi bermutu dan berkualitas.
Pertama, membangun kredibilitas dan menguatkan influence (pengaruh) melalui engagement dan enpowerment yang bijak.
Seorang atasan harus mampu membangun kepercayaan kepada para bawahan melalui penguatan engagement, yaitu bagaimana para bawahan merasa dihargai, punya peran dan keterlibatan yang berarti.
Sehingga para bawahan ada keterikatan rasa memiliki yang kuat dan penjiwaan yang tinggi terhadap bidang pekerjaannya dan juga kepada kantornya.
Para bawahan jadi merasa dipercaya bahwa apa yang sudah menjadi pekerjaannya adalah penting, tidak peduli apapun level jabatannya dalam struktur organisasi.
Mereka percaya bahwa apa yang telah mereka kerjakan saling memiliki dampak dan keterikatan yang tak terpisahkan antara satu sama lainnya ataupun antara satu bagian/bidang dengan bagian/bidang yang lainnya, sehingga dapat mewujudkan kesadaran untuk saling bersinergi dan kompak.
Nah, ketika engagement ini sudah tertanam kuat kepada para bawahan, maka artinya seorang atasan sudah berhasil memiliki kekuatan untuk mempengaruhi (to influence).
Maka kekuatan mempengaruhi ini tinggal dilanjutkan dengan kebijakan enpowerment, yaitu bagaimana seorang atasan menjalankan wewenang dan otoritasnya untuk memberdaya gunakan para bawahan.