Energi sangat diperlukan untuk hajat hidup orang banyak. Energi digunakan untuk menggerakan alat transportasi, mesin-mesin pabrik, dan alat listrik . Saat ini, sumber energi terbanyak berasal dari energi fosil (minyak bumi, gas, dan batu bara). Negara Indonesia sendiri juga masih mengandalkan energi fosil untuk memenuhi kebutuhan energi secara nasional.
KRISIS ENERGI
Energi fosil merupakan energi andalan untuk memenuhi kebutuhan energi di dunia termasuk Indonesia. Namun ketersediaan energi fosil tidak selamanya bisa memenuhi kebutuhan manusia. Hal itu disebabkan karena hal berikut:
Cadangan Energi Fosil Makin Menipis
Semenjak kecil, sering didengungkan bahwa Indonesia kaya dengan energi fosil (minyak bumi, gas alam, batubara). Seiring berjalannya waktu, energi fosil makin menipis. Perlu digarisbawahi menipis itu bukan berarti akan habis sama sekali untuk beberapa tahun yang akan datang. Menipis di sini maksudnya cadangan energi fosil proven menurun yang dipengaruhi oleh turunnya kegiatan eksplorasi sehingga penemuan cadangan energi fosil jarang yang berhasil.
Menurut BP Statistical Review World Energy 2011, cadangan minyak mentah Indonesia (terbukti dan potensial) turun sekitar 19% dari 9,6 miliar barel pada tahun 2000 menjadi 7,8 miliar barel pada tahun 2010. Sementara jumlah cadangan terbukti 4,2 miliar barel pada tahun 2010, turun 17% dari tahun 2000. Cadangan gas alam (terbukti) sebesar 108,4 TSCF meningkat sekitar 14% dari tahun 2000. Cadangan batubara Indonesia sebesar 126,3 miliar ton dan sumber daya diperkirakan sebesar 105,2 miliar ton pada tahun 2010.
[caption id="attachment_289806" align="aligncenter" width="461" caption="Sumber: Pusat Data dan Informasi ESDM, 2011"][/caption]
Krisis energi mengakibatkan meningkatnya impor energi sekunder (BBM dan LPG) Indonesia. Indonesia mengimpor energi sekunder karena terbatasnya produksi energi dalam negeri dan untuk mengamankan pasokan energi jangka panjang. Menurut BP Statistical Review World Energy 2011, total impor energi sekunder (BBM dan LPG) meningkat sebesar 17% dibandingkan tahun 2009. Sementara itu, impor LPG 2010 meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2009. Peningkatan ini sejalan dengan program konversi minyak tanah ke LPG. Produk minyak yang diimpor terdiri dari premium, minyak bakar, minyak solar (Automotive Diesel Oil), HOMC (High Octane Mogas Component-intermediate).
[caption id="attachment_289807" align="aligncenter" width="461" caption="Sumber: Pusat Data dan Informasi ESDM, 2011"]

Meningkatnya Jumlah Penduduk
Menurut data BPS 1990 sampai dengan 2009 dan Sensus Nasional Tahunan, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1990 sampai 2009 diperkirakan bertambah dari 179,4 juta (1990) menjadi 230,6 juta (2009) dengan laju pertumbuhan rata-rata 1,3% per tahun. Tahun 2010-2020 laju pertumbuhan 1,1% dan tahun 2020-2025 laju pertumbuhan 0,9%. Meningkatnya jumlah penduduk Indonesia akan menyebabkan meningkatnya kebutuhan manusia terhadap energi fosil dan menipisnya energi fosil. Meningkatnya jumlah penduduk juga akan meningkatkan konsumsi energi fosil. Penduduk akan lebih banyak mengkonsumsi energi fosil dalam berbagai sektor seperti transportasi, rumah tangga, pertanian, konstruksi, pertambangan, perindustrian.
[caption id="attachment_289808" align="aligncenter" width="461" caption="Konsumsi Energi Indonesia 2005-2011 (Sumber: Statistik Minyak Bumi 2011)"]

MENCARI ENERGI MASA DEPAN
Krisis energi bukan menjadi hambatan manusia untuk memenuhi kebutuhan energi global. Karena manusia harus bisa mencari energi alternatif untuk meminimalisir semakin menipisnya sumber energi konvensional di masa depan. Adapun energi alternatif yang berpotensial untuk dikembangkan adalah:
1. Geothermal
Menurut Badan Geologi (2008), Indonesia memiliki energi geothermal terbesar di dunia yaitu sekitar 27,6 GWe dengan cadangan terbukti sebesar 2.288 MWe dan cadangan terduga diperkirakan mencapai 11.229 MWe. Beberapa wilayah Indonesia yang memiliki cadangan geothermal besar adalah: Jawa Barat (1.535 MWe terbukti, 1.452 MWe terduga), Sumatera Utara (1.384 MWe terduga), dan Lampung (1.072 MWe terduga). Energi geothermal digunakan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan penyediaan energi thermal pada proses-proses pengolahan produk pertanian.
2. Tenaga Air
Indonesia memiliki potensi energi air yang merata diberbagai wilayah Indonesia. Wilayah yang memiliki potensi tenaga air terbesar adalah Papua dengan total potensi sekitar 25 GW. Tenaga air dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Pemanfaatan tenaga air saat ini masih relatif rendah yaitu 4,2 GW skala besar dan 84 MW skala mini/mikro.
3. Energi Surya
Energi surya merupakan energi yang paling universal karena dapat dijumpai di seluruh lokasi permukaan bumi. Energi surya Indonesia berdasarkan wilayah memiliki cadangan sebagai berikut: Kawasan barat Indonesia memiliki cadangan 4.5 kWh/m2.hari dan variasi bulanan sekitar 10% sedangkan Kawasan timur Indonesia memiliki cadangan 5.1 kWh/m2.hari dan variasi bulanan sekitar 9%. Energi surya dimanfaatkan untuk penyediaan listik individu per rumah (Solar Home System) sekitar 8 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hybrid dengan pembangkit listrik tenaga angin.
4. Angin
Energi angin ditentukan oleh besarnya rata-rata kecepatan angin di lokasi tersebut. Berdasarkan data kecepatan angin di berbagai wilayah, energi angin Indonesia berkisar antara 2,5 – 5,5 m/detik pada ketinggian 24 meter di atas permukaan tanah. Dengan kecepatan tersebut energi angin Indonesia termasuk dalam kategori kecepatan angin kelas rendah hingga menengah. Potensi energi angin Indonesia diperkirakan mencapai 9.290 MW dan wilayah yang mempunyai potensi angin cukup besar adalah Nusa Tenggara, Sumatera Selatan, Jambi dan Riau.
5. Gas Non-Konvensional
Metode gas non-konvensional (unconventional gas) merupakan metode yang popular di industri perminyakan saat ini. Metode non-konvensional berbeda dengan metode konvensional yang sudah biasa digunakan dalam industri perminyakan. Adapun perbedaan metode non-konvensional dan konvensional adalah:
- Gas konvensional dapat ditemukan pada reservoar dengan permeabilitas lebih besar dari 1 md dan dapat diekstrak menggunakan teknik konvensional yang cenderung lebih mudah dan murah. Sedangkan gas non-konvensional yang ditemukan pada reservoar memiliki permeabilitas rendah (< 1 md) dan tidak dapat diekstrak menggunakan metode konvensional.
- Gas non-konvensional terbentuk dan terjebak (trap) langsung pada batuan induk (source rock). Sedangkan gas konvensional setelah terbentuk di batuan induk (source rock) bermigrasi dan terjebak (trap) pada lapisan batuan sedimen.
- Kecuali CBM, letak gas non-konvensional di bawah permukaan bumi biasanya lebih dalam daripada hidrokarbon konvensional.
- Potensi gas non konvensional jauh lebih tinggi daripada gas konvensional, namun diperlukan teknologi yang lebih maju dan biaya yang lebih tinggi untuk memproduksinya secara ekonomis.
Lalu, diantara kelima energi (geothermal, air, surya, angina, gas non-konvensional) manakah yang paling berpotensional dikembangkan untuk masa depan?
Jawabannya adalah gas non-konvensional. Karena gas non-konvensional memiliki potensi yang lebih besar dibandingkan sumber energi alternatif lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dari gambar di bawah ini. Gambar tersebut menunjukan bahwa potensi gas non-konvensional pada tahun 2025 sebesar 30% dari total sumber energi yang ada.
[caption id="attachment_289811" align="aligncenter" width="461" caption="Sumber: Regulasi Presiden No. 5 tahun 2006"]

POTENSI GAS NON KONVENSIONAL
Sumber daya gas non-konvensional yang diproduksikan saat ini adalah tight gas, Coal Bed Methane (CBM), shale gas, oil shale, dan gas hydrat. Namun, saat ini Indonesia baru mengembangkan eksplorasi shale gas dan CBM. Khusus CBM, saat ini sudah dilakukan tahap produksi.
[caption id="attachment_289812" align="aligncenter" width="461" caption="Sumber: USGS"]

Potensi Shale Gas
Shale merupakan batuan sedimen klastik berbutir halus yang tersusun atas campuran antara mineral lempung dan fragmen kecil dari mineral lain seperti kuarsa, dolomit, dan kalsit. Shale dikarakterisasi sebagai laminasi tipis yang sejajar dengan lapisan batuan.
Shale gas adalah gas alam yang terkandung dalam batuan dan sering diklasifikasikan sebagai shale. Formasi shale gas memiliki beberapa karakteristik, yaitu: memiliki heterogenitas yang tinggi, matriks porositasnya rendah, dan permeabilitasnya rendah. Jika ditinjau dari segi respon log, pada zona tertentu shale gas akan memiliki aktivitas gamma ray yang sangat tinggi, resistivitas tinggi, memiliki respon log Pe dan bulk density yang rendah.
Karakter dari shale gas adalah kemampuannya untuk mengabsorpsi gas seperti lapisan batubara. Selain itu, shale gas juga mempunyai gas bebas dalam porositas, tidak seperti batubara yang tidak mempunyai porositas makro. Gas yang diabsorpsi sebanding dengan kandungan organik shale. Gas bebas sebanding dengan porositas efektif dan saturasi gas pada pori.
Shale gas diperoleh dari shale atau batuan induk (source rock) tempat terbentuknya hidrokarbon. Potensi shale gas cukup besar di Indonesia yaitu sekitar 574 TCF dari total cadangan dunia sebesar 6622 TCF. Cadangan shale gas lebih besar dibandingkan CBM sekitar 453,3 TCF dan gas bumi 334,5 TCF. Potensi shale gas terbanyak berada di Cekungan Sumatera Tengah, Cekungan Kutai, Cekungan Barito, Cekungan Sumatera Utara, Cekungan Sumatera Selatan, dan North East Java.
[caption id="attachment_289813" align="aligncenter" width="461" caption="Sumber: Geological Agency, 2011 "]

Teknologi Shale Gas
Pengembangan shale gas lebih sulit dibandingkan metode gas konvensional. Metode eksplorasi shale gas secara umum dimulai dengan akuisisi seismik, pengolahan data seismik, interpretasi geologi untuk menentukan hydrocarbon play, penentuan sweetspot untuk menghasilkan data log pseudo TOC, analisis petrophysic dan rock physic untuk menentukan Total Organic Carbon (TOC), geomekanik, maturasi, porositas, dan saturasi batuan, serta aplikasi lebih lanjut untuk mengetahui persebaran shale gas yang mengandung potensi gas.
Sedangkan metode pengeboran (drilling) dari shale gas dilakukan dengan teknik pengeboran horisontal (horizontal drilling) dan hydraulic fracturing. Hydraulic fracture memompakan material galon air, pasir, dan campuran bahan kimia, mulai dari garam dan asam sitrat hingga racun dan zat karsinogenik, termasuk benzena, formaldehida, dan timah dengan tekanan sampai 15.000 pon per inci persegi melalui sumur yang dibor horisontal ke formasi shale sedalam 10.000 meter di bawah permukaan tanah. Tekanan yang tinggi ini memaksa dibukanya puluhan celah oleh pasir dan bahan lainnya dalam cairan yang digunakan untuk hydraulic fracture. Setelah cairan dipompa kembali ke permukaan, gas alam yang tadinya terjebak dalam shale dapat mengalir bebas, dipompa melalui celah dan kemudian berbalik naik ke sumur akibat tekanan alam yang diciptakan oleh batuan ribuan kaki di atasnya.
[caption id="attachment_289814" align="aligncenter" width="461" caption="Sumber: Aldhous, 2012"]

Potensi Coal Bed Methane (CBM)
CBM merupakan gas alam yang memiliki komposisi utama metana (CH4) dan terbentuk bersamaan dengan proses pembentukan batubara (coalification), terjebak dan teradsorpsi pada "cleats" (macropores) dan matriks batubara (micropores). Cleats secara fisik mirip dengan retakan-retakan di lapisan batubara. Padacleats(fracture system) terdiri dariface cleatsdanbutt cleats. Face cleatsmemiliki karakteristik menerus sepanjang reservoar batubara yang dapat digunakan sebagai jalur utama pada aliran produksi CBM, sedangkanbutt cleats memiliki karakteristik tidak menerus dan tegak lurusface cleats. Dengan demikian, lapisan batubara pada target eksplorasi CBM selain berperan sebagai batuan reservoar, juga berperan sebagai batuan induk (source rock).
Potensi CBM di Indonesia mencapai 453 TCF. Potensi CBM terbanyak terletak di Cekungan Sumatera Selatan, Cekungan Barito, Cekungan Kutai, dan Cekungan Sumatera Tengah.
[caption id="attachment_289816" align="aligncenter" width="461" caption="Sumber: Advance Resource International Inc., 2013"]

Teknologi CBM
Secara umum, teknik eksplorasi CBM mirip dengan shale gas. Hanya saja terdapat perbedaan dalam teknik pengeboran. CBM menggunakan pengontrolan arah pada pengeboran, arah lubang bor dari permukaan dapat ditentukan dengan bebas, sehingga pengeboran memanjang dalam suatu lapisan batubara dapat dilakukan. Teknik ini juga memungkinkan produksi gas secara ekonomis pada suatu lokasi yang selama ini tidak dapat diusahakan, terkait permeabilitas lapisan batubaranya yang jelek.
[caption id="attachment_289817" align="aligncenter" width="461" caption="Sumber: Aldhous, 2012"]

Pemanfaatan CBM
Di Indonesia, CBM sudah dilakukan sampai tahap produksi. Sehingga, CBM sudah dirasakan pemanfaatannya bagi penduduk Indonesia. Adapun manfaat CBM adalah sebagai sumber energi ramah lingkungan untuk pengeringan batubara, untuk bahan bakar PLTG yaitu sebagai bahan bakar dalam turbin gas, sebagai bahan bakar untuk keperluan rumah tangga, dan sebagai bahan bakar pesawat ulang-alik.
MARI DUKUNG PERTAMINA MENGEMBANGKAN GAS NON-KONVENSIONAL
Saat ini Pertamina berkomitmen mengembangkan gas non-konvensional yaitu CBM dan shale gas. CBM sudah lama dikembangkan Pertamina tapi shale gas masih dalam tahap eksplorasi karena banyak hal masih dikaji tingkat keekonomiannya. Menurut Eddy Purnomo, Direktur Operasional Pertamina Hulu Energi, pihak Pertamina selalu melakukan percepatan pembentukan (Production Sharing Contract) CBM di area migas Pertamina. Saat ini, Pertamina telah mempunyai 14 blok CBM (10 di Sumatera dan 4 di Kalimantan). Pertamina akan menargetkan untuk menambah 9 blok CBM baru lagi sampai 2015. Sedangkan shale gas, Pertamina baru menandatangani PSC shale gas tahun 2013 ini. Adapun PSC shale gas pertama yang ditandatangani Pertamina pada daerah Sumbagut (Sumatera Bagian Utara).
TANTANGAN PERTAMINA DALAM PENGEMBANGAN GAS NON-KONVENSIONAL
Pengembangan energi alternatif itu mustahil dikembangkan secara mulus. Segala sesuatunya pasti ada tantangannya. Adapun tantangan yang bisa menjadi hambatan pengembangan gas non-konvensional adalah sebagai berikut:
- Investasi yang cukup mahal terhadap teknologi pengembangan gas non-konvensional. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa biaya yang yang dikeluarkan untuk mengembangkan metode non-konvensional lebih mahal dibandingkan metode konvensional.
- Teknologi eksplorasi dan produksi gas non-konvensional lebih sulit dibandingkan gas konvensional.
- Teknik pengeboran dengan metode hydraulic fracture harus ramah lingkungan.
- Dasar hukum dan tata kelola pemerintahan daerah harus mendukung pengembangan gas non-konvensional.
- Kondisi geografis perlu diminimalisir dengan infrastruktur yang memadai
- Penggunaan gas non-konvensional yang efisien supaya cadangannya tidak menipis secara drastis
SARAN UNTUK PENGEMBANGAN GAS NON-KONVENSIONAL
Sebagai masyarakat Indonesia yang membutuhkan energi masa depan, Saya memiliki beberapa saran untuk Pertamina. Adapun saran Saya kepada Pertamina adalah sebagai berikut:
- Persediaan dana yang cukup untuk pengembangan gas non-konvensional. Pertamina bisa melakukan joint dengan investor asing yang berpotensial untuk mengembangkan gas non-konvensional.
- Meningkatkan strategi eksplorasi dengan cara memperbanyak riset dan mempertajam ilmu tentang gas non-konvensional (geologi, geofisika, dan teknik reservoar), meningkatkan quality control (QC) terhadap data gas non-konvensional, mengoptimalkan dukungan data dan teknologi penemuan eksplorasi baik berupa program akusisi seismik 3D untuk menghasilkan data bawah permukaan yang lebih baik maupun teknologi perangkat lunak (software) untuk evaluasi dan pembuatan berbagai model geologi dan geofisika.
- Mengembangkan gas non-konvensional lainnya seperti tight gas, oil shale, dan gas hydrat untuk menambah energi alternatif di Indonesia.
- Meningkatkan quality control (QC) data geologi, geofisika, dan teknik reservoar untuk memutuskan titik sumur pengeboran. Hal ini digunakan untuk meminimalisir terjadinya kegagalan saat pengeboran. Selain itu, data yang ada harus diperhatikan kondisi geologi regionalnya supaya tidak menimbulkan resiko bencana alam saat pengeboran.
- Penggunakan teknik hydraulic fracture harus dilakukan dengan ramah lingkungan. Jangan sampai teknik pengeboran menimbulkan kebocoran dan polusi lingkungan. Pertamina juga harus membangun kepercayaan masyarakat supaya tidak banyak masyarakat yang beranggapan negatif dengan teknik hydraulic fracture.
- Meningkatkan Health, Safety, Environment (HSE) yang bertujuan untuk meminimalkan gangguan selama operasi, mencegah kebocoran sumur, bertanggung jawab terhadap lingkungan, memastikan setiap cairan limbah dan padatan dibuang dengan benar, mengurangi penggunaan air tawar, melakukan daur ulang untuk mengurangi beban terhadap sumber air setempat, dan meminimalkan penggunaan bahan kimia tambahan supaya menjadikan energi yang ramah lingkungan.
- Membuat dasar hukum yang mendukung pengembangan energi non-konvensional, memperjelas hukum tentang gas non-konvensional yangmana hukum gas non-konvensional harus berbeda dengan hukum gas konvensional, mencari dukungan politik untuk mempermudah peraturan dan tata kelola pemerintahan daerah, dan patuh terhadap dasar hukum yang ada.
- Mengembangkan gas non-konvensional dengan efisien dan hemat energi. Pertamina jangan terlalu sering melakukan pengeboran karena biaya yang dikeluarkan saat pengeboran mahal. Di samping itu, pengeboran yang dilakukan secara terus-menerus akan membuat cadangan gas non konvensional semakin menipis.
- Meningkatkan infrastruktur pembangunan dan akses transportasi terhadap lokasi sumur pengeboran gas non-konvensional. Seperti Kita ketahui bahwa lokasi sumur pengeboran itu biasanya di daerah pedalaman yang jauh dari sarana infrstruktur yang memadai. Pertamina bisa mengajukan dukungan infrastruktur yang memadai kepada pemerintah.
- Melakukan promosi pengembangan gas non-konvensional kepada masyarakat supaya tidak terjadi kesalahpahaman tentang teknologi, dasar hukum, dan pemanfaatan gas non-konvensional.
Sedangkan saran Saya kepada eksternal Pertamina adalah:
- Pemerintah dan masyarakat diharapkan mendukung pengembangan gas non-konvensional. Seperti diketahui sebelumnya bahwa potensi gas non-konvensional itu lebih besar dibandingkan gas konvensional yang telah dirasakan manfaatnya saat ini.
- Pemerintah dan aparat hukum perlu menetapkan Undang-Undang gas non-konvensional dan Tata Kelola Pemerintah Daerah.
- Pemerintah perlu mendukung infrastruktur dan sarana transportasi pada titik sumur pengeboran.
- Semua masyarakat disarankan untuk menggunakan energi seefisien dan sehemat mungkin. Caranya dengan menggunakan listrik seperlunya, mematikan lampu saat siang hari, mengurangi pemakaian AC, menghemat pemakaian transporatasi, dan menggunakan transportasi umum.
- Semua masyarakat disarankan membudayakan green energy dengan cara memanfaatkan car free day, memanfaatkan sepeda (bike day), dan menambah tanaman hijau di rumah.
Demikianlah penjelasan Saya tentang pengembangan gas non-konvensional sebagai energi potensial di masa depan. Saya berharap gas non-konvensional lebih dikembangkan supaya dapat dirasakan masyarakat pemanfaatannya.
REFERENSI
Aldhous, P. (2012), Drilling into the Unknown, New Scientist, Issue 2849, pp. 8-10.
International Energy Agency, 2012, Golden Rules for a Golden Age of Gas, Jakarta.
Sukhyar. et al., (2013), Unconventional Oil and Gas Potential in Indonesia with Special Attention to Shale Gas and Coal-bed Methane, Jakarta.
Pusat Data dan Informasi ESDM, 2010, Indonesia Energy Outlook 2010, Jakarta.
Pusat Data dan Informasi ESDM, 2011, Indikator Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia, Jakarta.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI