Lelaki dengan wajah dan tangan berlumuran darah mengerang. Tatapannya garang penuh dendam. Darah berceceran di lantai kereta.
Lelaki itu merangsek masuk ke gerbong tiga, saat pintu KRL Commuterline terbuka di Stasiun Gondangdia. Tentu saja penumpang panik dan berteriak histeris. Mereka lari berhamburan ke luar kereta dan gerbong sebelah.
Paijo yang duduk setengah terkantuk ikut panik. Dengan gemetar, ia berlari menghindar. Namun dorongan penumpang membuatnya jatuh bergulingan di lantai kereta. Ketika akan bangkit, sosok misterius itu tinggal sejengkal darinya.
Tangan lelaki itu bergerak cepat hendak menangkap tubuh Paijo. Jantung paijo berdetak kencang. Tubuhnya gemetar tak terkendali. Cairan hangat terasa membasahi celana.
Ia mencoba beringsut ke belakang, namun tubuhnya terasa sangat lemah. Paijo merasa nasib buruk akan menimpanya. Dalam kondisi genting, tiba-tiba...
Buukk!
Pukulan sapu ijuk membuat lelaki misterius itu menoleh ke belakang. Seorang petugas kebersihan bertubuh gempal menatap tajam.
"Kalau mau nakut-nakutin orang, jangan di kereta! Bikin kotor saja." hardik petugas.
Lelaki misterius itu mengaruk-garuk kepala. Tanpa banyak bicara, lelaki itu perlahan bergerak mendekati pintu. Tubuh hilang meninggalkan ceceran darah di lantai kereta.
Petugas kebersihan mengambil alat pel dan membersihkan lantai kereta. Paijo hanya bisa melongo. Ia mencoba bangkit kemudian duduk mengatur nafas. Paijo tak habis pikir dengan peristiwa horor yang baru saja dialaminya.
Di sela-sela kekalutan pikiran, Paijo mendengar gerutuan petugas kebersihan, "Ini juga, sudah tua masih ngompol."