Isu-isu terkait pangan semakin kencang menggelinding. Sepertinya, belakangan, isu-isu pangan beredar lebih cepat ketimbang puluhan tahun lalu. Pentingnya memperkuat kemandirian pangan nasional ramai diributkan dan diwacanakan, tetapi nihil realisasinya. Gelagat ketidakseriusan ini sebenarnya telah terbaca sejak 10 tahun terakhir kepemimpinan di Indonesia.
Menurut GreenPool Commodities (Australia), seperti tulisan Siswono Yudo Husodo di harian Kompas bulan lalu, Indonesia adalah pengimpor pangan yang sangat besar. Nilainya sekitar 9 miliar dollar AS, atau setara lebih dari Rp 100 triliun, angka ini terus membesar dari tahun ke tahun.Di tengah capaian ekonomi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 5 persen selama 10 tahun terakhir, kinerja sektor pangan di dua periode jabatan pemerintahan saat ini kurang menggembirakan.
Jika tidak mampu meningkatkan produksi pangannya, Indonesia akan terus mengalami defisit neraca perdagangan pangan, yang telah menguras devisa negara dan memperlemah stabilitas nilai tukar rupiah. Di tahun 2012, masih menurut tulisan Siswono Yudo Husodo, defisit perdagangan subsektor tanaman pangan mencapai 6,7 miliar dollas AS dan hortikultura 1,3 miliar dollar AS. Sedangkan 2013, hingga bulan September subsektor tanaman pangan defisit 3,8 miliar dollar AS dan hortikultura defisit 876,9 juta dollar AS.
Menurut Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Dwi Andreas Santosa, berdasarkan tulisan beliau di harian Kompas pekan lalu, pertumbuhan impor pangan selama hampir 10 tahun terakhir ini mengisyaratkan buruknya kinerja di sektor pertanian. Berimplikasi terhadap indeks ketahanan pangan Indonesia yang jauh di bawah negara-negara tetangga. Berdasarkan data Global Food Security Index 2012, di antara 105 negara yang dinilai, indeks ketahanan pangan Indonesia berada di urutan ke-64 dengan skor 46,8 yang jauh di bawah Malaysia yang berada di peringkat ke-33 (dengan skor 63,9), China 38 (62,5), Thailand 45 (57,9), Vietnam 55 (50,4), dan bahkan Filipina yang berada di urutan ke-63 (47,1).
Kemandirian pangan akan menjadi isu yang semakin krusial pada masa depan seiring peningkatan permintaan karena jumlah populasi bertambah. Persoalannya berpangkal pada permintaan yang jauh melampaui pasokan. Impor menjadi solusi instan bagi pemerintah untuk menutupi kekurangan pasokan dan menekan inflasi yang penyebab terbesarnya biasanya adalah komoditas pangan. Impor juga sering kali menjadi langkah pertama dan utama untuk stabilisasi harga di tingkat konsumen. Sekalipun impor pangan bermaksud untuk menutupi kekurangan pasokan, tetapi selalu berdampak buruk bagi petani kecil yang menyebabkan semakin banyak petani meninggalkan lahannya karena usaha tani tidak lagi menguntungkan bagi mereka karena harus bersaing dengan produk impor yang murah.
Berdasarkan realitas tersebut, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana mewujudkan kemandirian pangan nasional guna menghindari impor? Pertanyaan ini penting dijawab mengingat Indonesia sangat diuntungkan dengan kondisi geografis dan demografi, tetapi tak pandai memanfaatkan bonus. Adalah memalukan jika Indonesia yang terletak di kawasan tropis, berlahan subur, dengan curah hujan yang cukup, dan sinar matahari sepanjang tahun justru menjadi beban dunia untuk penyediaan pangan. Persoalannya lebih dikarenakan terbatasnya ketersediaan lahan yang membuat Indonesia tak mampu memenuhi sendiri kebutuhan pangannya.
Karenanya, dengan perluasan lahan pertanian yang signifikan, Indonesia dapat mencapai banyak sasaran sekaligus, yaitu memenuhi sendiri kebutuhan pangan bagi rakyat yang akan menghemat devisa, menyediakan lapangan kerja, untuk selanjutnya menjadi negara eksportir komoditas pangan. Terkait dengan lapangan kerja, misalnya, untuk mengelola lahan pertanian 1 hektar diperlukan tenaga kerja enam orang. Maka, untuk menyerap tenaga kerja 6 juta orang pemerintah perlu menyediakan lahan pertanian 1 juta hektar. Ini yang disebut sebagai mata rantai yang positif.
Selanjutnya, adanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang menjamin hak dan kedaulatan petani, porsi pembangunan untuk mereka ditingkatkan, serta akses terhadap sumber daya produktif terutama tanah diberikan. Kemudian meningkatkan kapasitas kelembagaan petani dan kualitas penyuluhan petani, seperti bagaimana mengatur jarak tanam, mengatur dosis pemupukan, dan penggunaan obat-obatan untuk mengatasi organisme pengganggu tanaman. Dan sosialisasi inovasi kemajuan teknologi, agar produk pertanian nasional mampu bersaing dengan globalisasi.
Di sejumlah daerah-daerah di Indonesia, sudah mulai banyak petani-petani yang sadar bahwa kegiatan bertani jika dikelola dengan manajemen yang baik akan sangat membantu dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Munculnya petani-petani berpengalaman yang berperan sebagai penyuluh swadaya yang membuka wawasan bagi petani lain untuk melakukan diversifikasi komoditas, tentu akan berdampak positif dalam realisasi kemandirian pangan. Sebagai contoh, adanya petani yang selain menanam komoditas pangan, dia juga menanam tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan di areal yang sama.
Ada pula yang lebih mengidentikkan diri sebagai petani hortikultura ketimbang menanam komoditas pangan. Dalam perhitungan dia, bertanam padi dan jagung atau komoditas pangan lainnya memerlukan lahan relatif luas dan hanya sekali panen. Sementara tanaman hortikultura, seperti cabai, tomat, kubis, kol, terung, dan kacang panjang, relatif tak memerlukan lahan luas dan bisa dipanen berkali-kali. Nilai jual hasil hortikultura pun relatif bagus, walaupun harganya sangat fluktuatif. Selain itu, ada juga petani yang mencoba keberuntungan melalui budidaya bawang merah. Budidaya bawang merah penting dikarenakan komoditas itu sering menjadi pemicu tingginya inflasi nasional. Bawang merah dipasok, antara lain, dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.
Dengan adanya komitmen pemerintah dalam menyediakan lahan pertanian yang signifikan sekaligus mengerem konversi lahan pertanian ke penggunaan lain, dan dibarengi dengan kesadaran dan antusias petani untuk melakukan diversifikasi tanaman, maka, Indonesia sudah bergerak progresif menuju kemandirian pangan nasional.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI