Karena pada dasarnya, perusahaan-perusahaan industri yang berjalan dalam lingkup global, sejatinya tidak selamanya memiliki hubungan dalam konteks yang buruk, seperti bersaing. Karena disisi lain, ada beberapa perusahaan yang memiliki orientasi sendiri dalam mengembangkan industri atau bisnisnya seperti salah satunya dengan cara bekerjasama atau merger dengan perusahaan lain, dan dalam hal ini tidak ada batasan wilayah yang mengikat sehingga disebut global.
Maka sebab itulah muncul sistem penukaran mata uang yang digunakan oleh seluruh bank-bank sentral di dunia dalam mengatasi interaksi ekonomi dunia, supaya ada mata uang yang menjadi patokan dalam bertransaksi dalam lingkup global. Oleh sebab itulah ketika semua negara-negara memiliki nasib yang sama pada masa endemi, yakni berusaha memulihkan stabilitas ekonomi kembali, maka tak heran jika negara lain pun menghadapi situasi yang sama. Bisa dilihat saja contohnya pada Amerika, sebagai negara tolak ukur yang menjadi ujung tombak negara-negara lain.
Berbagai kebijakan pun akhirnya dikeluarkan negara dalam rangka memperbaiki stabilitas ekonomi negaranya menuju pembangunan pada masa endemi yang lebih stabil dan sejahtera. Contoh saja Indonesia yang semenjak mulai turunnya kasus pandemi, sudah mengambil langkah mutakhir dengan mengajak punggawa moneter untuk bekerjasama saling bahu membahu membangun kembali stabilitas ekonomi negara, dengan cara membuat Surat Kesepakatan Bersama (SKB) atau yang biasa disebut Burden Sharing, dalam rangka menyongsong APBN negara menuju kearah yang lebih stabil.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H