Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPP PDIP yang baru dilantik untuk periode 2019-2024 pada kongres PDIP V di Bali, Bambang Wuryanto, mengaku siap mengukir kemenangan untuk ketiga kalinya pada Pemilu 2024.
 "Ketua umum perintahnya begitu, ya kami pasti siap. Ya kami kan kalau bisa pengin hattrick dan saya kira bukan mau sombong, maksudnya hattrick di pemilu bos," demikian katanya. Suara.com (10/8/2019).Â
Keinginan Megawati tersebut sangat wajar, meskipun diakui bukan sombong tetapi akankah semudah itu? Sejak lengsernya Soeharto, belum ada partai politik berturut-turut tiga kali memenangkan pemilu, baik pilpres maupun legislatif.Â
Kenyataan berlakunya politik populis  di Indonesia menyebabkan setiap tokoh ada zamannya dan setiap zaman ada tokoh idolanya, Gus Dur, SBY, dan Jokowi. Setiap pemilu berbeda tantangannya.
Pada Pemilu legislatif 2014, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), perolehan suaranya tidaklah mengesankan, meskipun di posisi pertama, perolehannya hanya  18,95 persen.
Begitu juga dukungan suara pasangan Jokowi-Kalla  yang 53,15 persen, bukanlah jumlah yang luar biasa. Faktor populis SBY yang tidak bisa maju lagi dan kelemahan lawannya, Prabowo-Hatta, menjadi keberuntungan Jokowi-Kalla. Â
Meskipun peran mesin partai PDIP tidak diabaikan, tetapi kesuksesan pencitraan mempopulerkan Jokowi sangat menentukan kemenangannya.
Perolehan suara Pileg PDIP  2019  meningkat tipis  dari Pileg 2014, menjadi 19,33 persen. Peningkatan tipis tersebut bukanlah prestasi membanggakan bagi partai petahana berkuasa.Â
Demikian juga kemenangan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dengan suara 55,5%, menantang  lawan tetapnya Capres Prabowo, bukanlah kemenangan membanggakan, mengingat  posisinya sebagai juara bertahan. Sekali lagi, faktor popularitas  dan petahana menjadi keberuntungan.
Salah satu faktor lain yang tidak muncul di 2014 tetapi menentukan kemenangan Jokowi di 2019 adalah penomena politik polarisasi sentimen agama oleh Islam garis keras.Â