Minggu pagi, 13 November 2022, aku menanyakan kondisi Emak ke adikku. Alhamdulillah, Emak sudah mendingan, pagi tadi sudah mau makan bubur. Aku sedikit tenang. Hari Selasa atau Rabu tak pulang wes, begitu batinku. Entah kenapa, hari itu pikiranku seperti dipaksa untuk mengeja kebiasaan-kebiasaan positif Emak yang sering dipesankan berulang ke kami, anak-anaknya. Dua yang paling menonjol adalah kegemarannya bersedekah dan memberi hadiah, serta merawat simpul-simpul rahim sebagai cara mengingat asal usul.Â
Senin Wage, 14 November 2022, waktu Ashar. Istriku membangunkanku sambil menyerahkan ponselku. "Ini angkat teleponnya". Kulihat layar, ada nama Izah, sepupuku dari Tegal. Aku yang masih berjuang mengumpulkan kesadaran, pun masih sempat mikir; kok tumben Izah nelpon. Ada apa ya. "Mas Udin, niki Izah. Wa Ju meninggal......"
Tubuhku langsung limbung, seolah tak percaya dengan kabar yang baru saja kudengar. Aku bahkan harus mengatur nafas, karena dada terasa sesak. Â Sebuah kilasan peristiwa dalam beberapa pekan terakhir mendadak memenuhi kepalaku. Dan aku merasa terlambat membatinkan banyak niat baik untuk Emak. Rasanya baru hitungan hari aku merancang ulang doa-doa untukmu, Mak. Tapi Sang Maha Cinta memanggilmu kembali, bahkan sebelum kami menyempurnakan bakti.
"Jangan pernah menunda niat baik, Nak. Karena kamu tak pernah punya kuasa atas usia dan waktu....". []
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H