Â
Pendam saja cinta yang seperti itu. Simpan baik-baik dan jangan mudah diumbar-umbar ke orang. Saya ini mencintai, dan saya dipandang rendah karena cinta saya tulus. Itukah konsekuensinya? Silahkan Anda menjual mahal. Biarkan cinta terakumulasi dan akhirnya meledak dengan ledakan yang dahsyat. Biarkan kita berasyik-asyikan dengan kebencian, karena pada akhirnya kita akan merasa bosan juga dengan keasyikan kita. Kita akan muak, kita akan jenuh dan memutuskan memilih jalan yang kontradiktif dengan saat ini.Â
Â
Memang setiap jalan akan berakhir dengan kebosanan. Saya yakin kita sedang menuju ke sana. Walau tak tahu waktunya kapan tiba. Kita sedang menuju pada kerinduan saat ini. Kerinduan itu akan pecah dengan tangis haru kebahagiaan dan penyesalan akan yang masa lampau. "Kenapa kita tidak begitu dari dulu. Kenapa baru sekarang?" Penyesalan memang datang di akhir. Penyesalan selalu saja muncul pada momentum dimana kita baru sadar. Entah kita sadari atau tidak kemabukan ini? Logikanya, kebanyakan orang tidak sadar ketika dirinya mabuk. Kemabukan telah memendam kesadaran kita. Memendam cinta. Dan cinta akan marah yang mengakibatkan keterkejutan kita. Kesadaran kita kembali dari inferioritas yang dialaminya.Â
Â
Tapi saat ini kita mungkin belum sadar. Kita masih mabuk. Dan keasyikan mabuk. Silahkan minum lagi. Tuang dan kita bersulang meramaikan hari-hari ini dengan kebisingan suara gelas-gelas yang beradu. Nikmati saja selagi bisa menikmati. Minum, minum sampai muak dan muntah. Minum sampai bosan. Nikmati yang terjadi saat ini. Jangan tunggu-tunggu kapan waktunya tiba. Karena waktu belum tentu pasti memberikan jawaban yang kita inginkan. Waktu kadang justru memberikan kekecewaan. So, mari mabuk kembali.
Â
(Tulisan ini juga terdapat di monyetsinting.blogspot.com)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H