Dua hari yang lalu yaitu hari sabtu, tepatnya menjelang malam, aku pergi ke toko buku. Sebelum membeli buku, aku makan di pinggir jalan. Kulihat meja hanya menyisakan satu bangku kosong. Aku langsung duduk dan memesan nasi goreng yang datangnya cukup lama karena banyaknya pesanan. Selama menunggu kuperhatikan sekitarku. Di jalan kendaraan lalu lalang tanpa henti. Di sampingku ada lima pelanggan lain. Kami makan semeja meski tak saling kenal. Sementara dua pelanggan lain berdiri menunggu pesanan mereka dibungkus.
Pesananku baru saja terhidang saat seorang perempuan cantik duduk di depanku. Ia sedang menunggu pesanannya; dua nasi goreng spesial tanpa telur, dibungkus. Beberapa kali ia merapikan rambutnya yang sebahu itu di balik telinganya. Dan beruntungnya aku, perempuan cantik di depanku ini membiarkanku melihatnya. Aku tidak perlu panjang-lebar mendeskripsikan rupanya. Satu kata saja: cantik. Bagaimana aku menyia-nyiakan momen indah ini? Nasi gorengku seperti diberi bumbu tambahan dari langit. Aku makan sangat lahap seakan-akan ingin memasukkan momen indah ini semua ke dalam tubuhku.
Lihat, ia membalas pandanganku. Aku tidak bisa menghindar lagi. Kupikir ia akan marah atau kesal karena seorang tak dikenal, yaitu aku, sedang memandanginya. Tidak. Malahan ia semakin membiarkanku memandanginya. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutku untuk menyapanya sampai aku selesai dan membayar makananku lalu pergi. Aku tentu ingat tujuanku sebelumnya, beli buku.
Sebenarnya aku berhasil membeli satu buku saja. Selebihnya, waktu kuhabiskan dengan membaca buku-buku yang bisa dibaca alias baca gratis. Pulang dari sana aku naik angkot. Kadang naik angkot bikin jengkel. Sudah mengetem lama, supirnya merokok pula. Ketika sudah jalan, si supir menyetir seenaknya. Niat cari penumpang tapi ngebut. Pantas saja orang lebih memilih naik kendaraan pribadi meski macet. Terkadang pula aku berpikir menjadi supir angkot itu harus cerdas. Bagaimana mungkin dapat penumpang kalau terlalu lama mengetem. Bagaimana mungkin pula dapat penumpang kalau jalan dijadikan arena balapan.
Dua minggu yang lalu. "Pak Agus, besok tolong antar berkas ini ke Ciawi," perintah kepala sekolah. "Diserahkan kepada siapa, Pak." "Ke pak pengawas. Namanya Pak Udin," kata kepala sekolah lagi. Aku hanyalah guru yang siap melaksanakan tugas yang diberikan.
Aku pun berangkat dengan membawa berkas yang telah disiapkan. Jaraknya lumayan jauh. Belum lagi aku dikejar-kejar hujan di jalan. Kala hujan masih rintik-rintik, kupercepat laju motorku dengan maksud menghindari hujan. Benar saja tidak jauh di depan ternyata tidak hujan. Tetapi, begitu terus hampir sepanjang jalan hingga aku merasa hujan mengejarku. Berkas yang kuantar adalah untuk kelengkapan persiapan akreditasi sekolah.
Beberapa kali pula aku berhenti menanyakan arah tujuanku. Aku mau langsung tiba ke tujuan, sebuah sekolah negeri di daerah Ciawi. Aku tiba. Pihak sekuriti dengan ramah menunjukkan ruang di mana para pengawas sedang rapat. Ternyata ada sekolah lain juga di sana yang juga akan menyerahkan berkas. Kami sempat berbincang sebentar sebelum Pak Udin menghampiriku untuk mengambil berkas. Kuserahkan berkas tersebut sambil memohon maaf atas keterlambatan sekolah kami, lalu berterima kasih. Pak Udin kembali ke ruang rapat. Hujan turun deras sekali.
Aku menunggu cukup lama di teras sekolah. Di luar, ada parkiran mobil. Di bagian dalam, ada lorong yang menuju ke ruang kelas sekolah tersebut tetapi ada jeruji besi yang terkunci. Sejenak aku melihat-lihat ke dalam lewat pagar besi itu. Dari tempatku berdiri terlihat tiga kelas. Murid-murid di sana terlihat mondar-mandir di dalam kelas. Tidak ada guru di dalam kelas di tiga kelas itu. Mungkin sedang jam istirahat, pikirku. Tapi, itu tidak mungkin, sebab aku sudah berdiri di sana menunggu hujan reda selama satu jam dan belum kulihat satu orang guru pun masuk kelas.
Kakiku mulai pegal berdiri. Aku berharap hujan berkurang sedikit saja setidaknya bisa dilewati pemotor sepertiku. Ternyata tidak. Di parkiran ada mobil baru datang. Supir keluar mobil dan berlari menuju ke arahku. Kami sempat bertegur sapa. Di tangannya ada map dan sebuah plastik berisi kue  di dalam kotak. Ada dua kotak. Setelah selesai dengan urusannya, dia berdiri di sampingku sambil mengelap badannya yang sempat basah tadi. "Tadi bawa apa, Pak," kataku basa-basi padanya. "Itu... berkas yang harus dikumpul ke pengawas," jawabnya. "Wah, ternyata tujuan kita sama". Kami tertawa. "Terus di plastik tadi apa?" "Oh itu kue. Titipan kepala sekolah untuk pak pengawas. Biasalah..." jawabnya sambil tertawa.
Seminggu yang lalu. Kami kedatangan tamu, Pak Udin, pak pengawas. Tujuan beliau adalah untuk memantau keadaan sekolah khususnya mengenai manajerial sekolah. Kami pun menyambut beliau. Setelah memantau kondisi sekolah secara fisik, melihat-lihat suasana sekolah, kami berkumpul di ruang kepala sekolah. Pembicaraan berjalan dengan lancar. Namun, ada yang aneh dalam tangkapanku. Saat itu pak kepala sekolah bertanya soal sulitnya mengurus sesuatu di dinas. Dan tanggapan pak pengawas membuatku heran.
Beliau bercerita bahwa dia pernah mengurus sesuatu ke dinas. Dia mengantri dengan sabar sesuai urutan. Namun, karena beberapa peserta antrian memberikan "amplop" yang membuat pengurusan lebih cepat, dan anehnya petugas di sana mau menerima, maka sejak itu dia juga melakukan hal yang sama. Alhasil, segala sesuatu yang diurus menjadi mudah dan cepat. Huh....kupikir solusinya bakal keren dan tepat sasaran. Tanpa "amplop", silakan antri paling belakang. Begitu simpulku.