Mohon tunggu...
Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Blogger/Content Creator

walau orang digaji gede sekalipun, kalau mentalnya serakah, bakalan korupsi juga.

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Menanggapi Kekhawatiran Melemahnya Rupiah

17 Maret 2015   12:56 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:32 132
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Akhirnya pemerintah Indonesia resmi mengumumkan paket kebijakan ekonomi (jangka panjang) menanggapi pelemahan Rupiah yang hingga kini masih tertekan oleh penguatan mata uang Dollar US, namun disisi lain akibat penguatan Dollar US itu justru berdampak kepada Amerika sendiri khususnya para pelaku pasar saham dikarenakan munculnya kekhawatiran pertumbuhan ekonomi mendorong the Federal Reserve menaikkan suku bunga.

Penguatan nilai mata uang Dollar US tidak hanya berpengaruh kepada mata uang Rupiah tetapi juga kepada beberapa negara berkembang lainnya menyebabkan para investor Amerika cemas karena menguatnya Dollar US menjadikan barang industri Amerika kalah daya saing dengan produk negara lain. Alih-alih penguatan mata uang otomatis nilai harga barang produksi Amerika cenderung tinggi dan beresiko permintaan barang produksi pun menurun. Imbas secara global dari penguatan mata uang Amerika ini juga menyebabkan turunnya harga minyak dunia dan emas.

Dari gambaran makro memang tak begitu tampak menguntungkan bagi kubu Indonesia, sebagaimana penguatan Dollar US berlanjut maka rasa kekhawatiran masyarakat pun kian bertambah seiring waktu. Apalagi dengan situasi kondisi ranah politik Indonesia saat ini yang bisa dikatakan sedang menghangat diakibatkan kisruh permasalahan internal pada partai politik dikhawatirkan dapat memicu terjadinya aksi-aksi anarkis. Kemudian ditambah menguatnya mata uang Dollar US berdampak pula kepada beberapa sektor usaha yang menggunakan bahan baku import menyebabkan meningkatkan beban biaya yang dikeluarkan dan berpengaruh pada proses produksi. Alhasil para pelaku usaha harus memutar otak berupaya bagaimana agar produksinya tetap berjalan dikala disaat bersamaan daya serap masyarakat menurun diakibatkan semakin meningkatnya beban kebutuhan hidup.

Menyisir keadaan yang dihadapi Indonesia saat ini, apakah dapat diindikasikan bahwa Indonesia menghadapi permasalahan yang sama seperti krisis moneter 1998? Dalam artikel ini Penulis hanya mengutarakan opini semata, cakupannya bukan sebagai orang yang ahli dalam bidang ekonomi dan keuangan, hanya sebatas orang awam yang menjadi bagian dari masyarakat. Jika mengacu pada kondisi sebelum krisis moneter tentu kita semua masih ingat bahwa saat itu Dollar US pada kisaran Rp.2.000-an, lalu ketika krisis moneter 1998 terjadi Dollar US berlipat ganda hingga mencapai kisaran Rp.17.000,-. Semenjak itu selama beberapa tahun kedepannya ekonomi Indonesia berbenah dan beradaptasi dengan perubahan yang signifikan dimana segala sesuatunya terasa lebih mahal. Penulis masih teringat ketika dahulu Rp.100,- masih mendapatkan 4 buah permen maka setelah krisis moneter Rp,100,- hanya bernilai 1 buah permen saja. Seiring waktu pun masyarakat mulai terbiasa dengan keadaan dan dalam beberapa tahun Dollar US terpatok aman pada posisi kisaran Rp.9.000,-an.

Namun sekitar 10 tahun terakhir, indikasi kenaikan mata uang Dollar US terhadap Rupiah mulai terasa tepat di periode akhir masa pemerintahan sebelumnya. Penulis teringat ketika Dollar US yang sempat pada posisi stagnan kisaran Rp.9.000,-an merangkak lambat namun pasti naik hingga menjadi kisaran Rp.10.000,- dan terus naik menjadi kisaran Rp.11.000,- pada tahun 2014 lalu sebelum Pemilu. Penulis sempat terpikir bahwa kenaikan ini akan terus berlanjut mengacu oleh memanasnya persaingan politik disaat Pemilu. Ketika Pemilihan Presiden telah diumumkan, Rupiah sempat mengalami respon positif ketika itu dan mampu bertahan menghadapi tekanan. Akan tetapi tampaknya hingar bingar pemerintahan baru kini tak menjadi alasan Dollar US untuk melaju dan terus menekan Rupiah yang hingga kini telah tembus Rp.13.000,-an.

Mengamati apa yang terjadi bisa dibilang momentum kenaikan mata uang Dollar US ini memang bertepatan dengan pemerintahan baru Indonesia sekarang, namun masyarakat tidak perlu cemas dan khawatir karena situasi saat ini tidak mengindikasikan bahwa Indonesia akan kembali menghadapi krisis moneter seperti tahun 1998 lalu. Patut dipertanyakan pula suara-suara yang menyatakan kenaikan Dollar US akibat kegagalan dari pemerintahan baru karena bukanlah itu penyebabnya. Alasan yang mendasari penguatan Dollar US saat ini adalah dikarenakan perekonomian Amerika yang sedang meningkat, bahkan diprediksi hingga 2 tahun kedepan. Oleh karena itu semoga saja dengan 6 kebijakan ekonomi yang dicetuskan pemerintahan saat ini mampu meredam laju penguatan Dollar US terhadap Rupiah, kemudian Penulis pun berpendapat langkah upaya pemerintah juga harus disupport masyarakat dengan mengurangi konsumerisme akan produk luar maupun kegiatan keuangan menggunakan Dollar US dan tidak lupa mengupayakan menetapkan hidup dengan cara berhemat. Semoga Indonesia lebih baik kedepannya. Demikian artikel Penulis, mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik Penulis pribadi. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun