Mohon tunggu...
Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Blogger/Content Creator

walau orang digaji gede sekalipun, kalau mentalnya serakah, bakalan korupsi juga.

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Bisnis Esek, Ecek, dan Becek Prostitusi Online di Kalangan Artis

15 Desember 2015   14:55 Diperbarui: 15 Desember 2015   15:03 345
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Media. Sumber ilustrasi: PIXABAY/Free-photos

Kasus "prostitusi online di kalangan artis" tampak akan masih berlanjut dimana sebelumnya setelah penangkapan mucikari RA dan artis AA sempat "vacuum" dan diakhir tahun kasus ini kembali terangkat berkat pendalaman penyelidikan yang dilakukan pihak Kepolisian dengan menangkap tangan 2 mucikari sekaligus 2 artis secara bersamaan di satu tempat.

Dibalik hasil impressive pihak Kepolisian sebenarnya mungkin tak hanya Penulis tetapi masyarakat menunggu akan kabar siapa-siapa saja pihak berlebih yang begitu gemar menggunakan jasa esek-esek yang "oknum" artis tawarkan dan mengungkap tuntas bisnis esek-ecek-becek kalangan atas yang sangat memprihatinkan ini mengingat prostitusi di kalangan artis sudah ibarat sebuah profesi sampingan untuk mendapatkan uang secara cepat (ketimbang berprestasi dalam profesi keartisannya) guna mencukupi glamornya hidup di dunia hiburan.

Semenjak kembali terangkatnya kasus ini ada yang Penulis nilai menarik, antara lain : penangkapan dan status tersangka mucikari, penangkapan dan status korban kepada artis, pemberitaan media yang tidak berimbang, dan tanggapan nyeleneh dari beberapa pihak yang seolah tidak mau tahu, malu, dan cenderung membela, serta ironi menyangkut kasus ini.

Pertama prihal penangkapan dan status tersangka mucikari, apa mau dikata jika merunut pada kejadian sebelumnya maka sudah bisa ditebak bahwa kedua mucikari yang tertangkap akan dikenai sanksi hukum yang terbilang ringan. Walau mungkin ada pertanyaan "siapa sih yang mau ditahan selama 1 tahun lebih" atau "memangnya enak dipenjara selama itu", akan tetapi pandangan publik pasti menilai bahwa sanksi hukum tersebut begitu ringan (tidak sesuai dengan dampak yang telah diakibatkannya baik ke masyarakat maupun dunia hiburan) dan sama sekali tidak akan memberikan efek jera kepada pelakunya.

Kedua prihal status korban yang diberikan kepada artis, pertanyaannya kok bisa ya? Nalar Penulis berkata demikian, benar bahwa mereka bisa dikatakan sebagai korban "human trafficking" akan tetapi bukankah pihak Kepolisian telah mempublikasi bahwa mereka cukup bukti (artis tertangkap tangan, bukti transfer sebagai uang muka, dan kesaksian dari mucikari). Ketiga hal itu kiranya sudah cukup menjadikan artis yang terlibat sebagai pelaku atau tersangka dan bukan korban. Kalaupun bisa dianggap sebagai tersangka yang terlibat dalam pencucian uang sebagai tuduhan maka kemungkinan membutuhkan cerita lain dimana harus ada tersangka (pelanggan) yang memang menyewa jasa esek-ecek-becek ini dari hasil tindakan melanggar hukum.

Di lain pihak kiranya pihak Kepolisian atau penegak hukum lainnya berkenan menggunakan nilai moralitas untuk menetapkan artis yang terlibat prostitusi online, mengapa? Mereka adalah publik figur yang sepatutnya menunjukkan contoh teladan kepada publik, bukan malah mejual diri hasil pamor keartisan mereka. Kiranya masih banyak pertimbangan yang memungkinkan status 'korban" ini jangan menjadi kebiasaan dikarenakan siapa pun artis yang terlibat kasus prostitusi online maka mereka akan merasa kebal hukum.

Ketiga pemberitaan media yang tidak berimbang, maksud Penulis mengapa sorotan media hanya ketika sedang ramai-ramainya kasus ini dan setelahnya? Mengapa media tidak berusaha menguak tabir gelap dunia keartisan, berbeda dengan kasus politik tampaknya mereka gemar sekali. Mengapa pemberitaan seolah tertuju kepada satu artis saja mengingat namanya memang lebih terkenal, tetapi seperti tidak ada sorotan ke artis yang ikut tertangkap? Penulis kira dengan media ikut berperan aktif menyorot kasus prostitusi online ini maka "oknum" artis dengan double job akan berpikir dua kali, mereka akan berpikir bahwa dunia hiburan adalah untuk mereka para artis yang berprestasi bukan cuma sekedar nampang buat nama, jual keseksian, dan heboh buat sensasi.

Keempat prihal tanggapan nyeleneh, ini kasus sangat lucu sekali. Kok bisa-bisanya ada tanggapan yang menyatakan sebagai contoh "urus saja diri sendiri jangan urusi urusan orang lain" dan "mereka yang melakukan biarlah toh mereka yang bertanggung jawab". Mohon maaf sebelumnya, apakah pernyataan tersebut diucapkan secara sadar? Apakah mereka yang menyatakan tersebut sudah tidak punya mata hati dan buta indera penglihatan akibat dampak adanya prostitusi online? Tanyakan pada hati kecil anda-anda, bagaimana rasanya jika saja ada orang-orang yang anda cintai terlibat kasus prostitusi online, mau ditaruh dimana itu muka terlebih keluarga?

Kelima prihal ironi kasus prostitusi online, hal ini jelas-jelas memprihatinkan. Bagaimana tidak, kiranya tidak satupun Penulis perhatikan ada pihak-pihak khususnya elemen organisasi kewanitaan bahkan kaum artis yang ikut prihatin dan perduli terhadap kasus "prostitusi online di kalangan artis". Ini bagaimana sih? Martabat kaum wanita sedang dilecehkan dengan kaum anda sendiri kok malah diam seolah mencari aman?! Apa anda-anda tidak lihat efek jangka panjangnya? Kekerasan dan tindak pidana kepada kaum wanita setiap tahunnya meningkat, apa anda ingin generasi kaum wanita berikutnya lebih menderita ketimbang mirisnya apa yang terjadi sekarang? Bergeraklah dan jangan hanya diam, siapa lagi yang akan membela jika bukan anda-anda kaum wanita?

Kiranya artikel ini sebatas unek-unek Penulis menyangkut kasus prostitusi online di kalangan artis. Semoga artikel ini menumbuhkan rasa keperdulian kita khususnya kaum wanita dan juga perhatian pemerintah serta semoga kasus ini segera terselesaikan guna kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik dimasa yang akan datang. Demikian artikel Penulis, mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik Penulis pribadi. Terima kasih.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun