Mohon tunggu...
Salma
Salma Mohon Tunggu... Guru - Guru Bimbingan Konseling - Kepala SMP Darussalam Kandanghaur

dunia pendidikan adalah bidang yang saya geluti, saya senang menambah ilmu dan berbagi ilmu. Setiap hari saya usahakan untuk mendapatkan pengetahuan baru. Selain itu saya senang terhadap fotografi, film aksi dan drama, juga musik.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Dimensi Perenialisme dalam Pendidikan

3 Oktober 2022   23:28 Diperbarui: 3 Oktober 2022   23:30 262
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

          Kebesaran sebuah buku terletak pada statusnya sebagai buku klasik. Sebuah buku klasik merupakan karya yang relevan bagi tiap kurun dan karena itu berda di atas karya-karya manusia pada umumnya. Karya-karya yang pantas masuk ke dalam kategori ini adalah karya-karya yang telah teruji oleh perjalanan waktu. Karena karya-karya buku semacam itu telah diakui bernilai dalam lintas abad, budaya dan peradaban, maka mereka tentunya berisi banyak kebenaran. Jika anggapan ini benar, pendapat kalangan perenialis, maka pengkajian terhadap mereka merupakan keharusan. Adler menuliskan bahwa pembacaan karya-karya besar bukanlah untuk tujuan-tujuan "mengoleksi" hal-hal kuno; kepentingannya tidaklah bersifat arkeologis atau filologis. Karya-karya sejenis itu lebih banyak dibaca karena mereka searah dengan tuntutan masa kini seperti halnya waktu ditulis dahulu, dan karena asalah-masala yang diungkap dan ide/gagasan yang dimuat tidak tunduk pada hukum kemajuan tanpa akhir.

          Adanya penekanan pada pembacaan karya-karya besar yang asli berlawanan dengan tradisi mendasar dalam pendidikan yang mana buku teks ditonjolkan sebagai cara utama untuk mengalihkan materi kajian yang terorganisir. Hutchins menegaskan bahwa, "buku-buku teks kiranya telah banyak memundurkan kecerdasan bangsa Amerika. Jika subjek didik harus tahu tentang Cicero, Milton, Galileo atau Adam Smith, mengapa ia tidak harus pula membaca karya-karya mereka.

          Kalangan perenialis yang kurang menyukai program atau pengajaran karya-karya besar menegaskan bahwa sumber-sumber gagasan besar kontemporer bisa digunakan untuk memperoleh pengetahuan. Namun, mereka melihat perlunya subjek didik secara langsung berbenturan dengan pemikir-pemikir besar daripada dengan bahan "matang" yang terdapat dalam buku-buku teks.

          Pada dasarnya sekolah adalah sebuah sistem arti fisial atau buatan dimana cendekiawan yang belum matang berkenalan dengan tujuan terbesar manusia. Sekolah, seperti pandangan progresif, bukanlah miniatur dari masyarakat yang lebih luas. Kehidupan manusia, dalam pengertian menyeluruh, bisa dijalani hanya setelah aspek rasional manusia dikembangkan. Dan sekolah merupakan sebuah institusi khusus yang berusaha mencapai misi yang sangat penting ini. Sekolah tidak memiliki kepentingan dengan masalah pekerjaan, hiburan, dan rekreasi manusia. Hal-hal tersebut mempunyai tempat dalam kehidupan manusia, akan tetapi berada di luar jangkauan aktivitas pendidikan.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun