Di beberapa titik di Jalur Pantura, kita bisa menemukan rumah-rumah warga di pinggir jalan raya, yang berderet tidak simetris dengan jalan raya di depannya. Artinya, posisi rumah terlihat agak serong sekitar 15 sampai 20 derajat dari jalan raya. Pemandangan seperti ini juga dapat ditemukan di beberapa wilayah di Tasikmalaya, di Kalimatan Timur dan Selatan, dan Sulawesi Selatan dan Tengah.
Saya pernah sengaja berhenti di wilayah Indramayu dan bertanya kepada warga kampung: kenapa bangunan rumahnya tidak simetris dengan jalan raya?
Saya kemudian diarahkan untuk berbincang dengan seorang pemuka warga, yang menjelaskan begini: para leluhur kami mewanti-wanti agar bangunan rumah simetris dengan arah kiblat, meskipun dengan risiko agak menyerong dari posisi jalan.
Tujuannya, agar ketika menunaikan shalat di dalam rumah, secara otomatis mengikuti arah rumah (ke depan, ke kanan atau ke kiri). Posisi rumah seperti ini juga enak dibuat shalat berjamaah di dalam rumah.
![](https://assets.kompasiana.com/items/album/2016/01/04/2016-01-04-kearifan-lokal-06-posisi-rumah-jalan-2-jpg-568a2a6ab092733717034147.jpg?v=600&t=o?t=o&v=770)
Sebaliknya, rumah yang menghadap ke utara, posisi pintu utama rumah akan diletakkan di posisi kanan. Tujuannya juga agar orang yang keluar-masuk ke rumah tidak melewati bagian depan orang yang sedang shalat.
Ketika membangun toilet, posisi closet juga akan diatur sedemikian rupa sehingga orang yang sedang buang air besar/kecil, tidak menghadap atau membelakangi kiblat, tetapi menyamping kanan/kiri ke arah barat.
Secara umum, kalau rumah yang menghadap ke barat (kiblat), tidak ada masalah. Persoalannya adalah rumah yang menghadap ke timur, alias membelakangi arah kiblat. Solusinya: harus ada bagian belakang rumah, yang dikondisikan seperti bagian depan rumah.
Manfaat lainnya, dengan menghadap secara simatris ke timur atau barat, utara dan selatan, berarti ada bagian rumah yang langsung mendapatkan sinar matahari secara langsung dan penuh di pagi atau sore hari.
Warga itu kemudian menjelaskan lanjut: ini pesan leluhur yang kami warisi, meskipun tidak semua warga kampung di sini rajin menunaikan shalat. Secara pribadi, saya juga tidak paham alasan rasional atau dalil agamanya. Penjelasan yang saya sampaikan itupun hanya alasan praktis saja.