Tiap orang memiliki refleksinya sendiri tentang pelajaran yang bisa dipetik dari tahun 2017, yang sisa beberapa hari lagi akan segera berlalu. Ke-10 pelajaran pilihan berikut, umumnya adalah lanjutan dari tahun-tahun sebelumnya, dan naga-naganya masih akan bergolak lanjut di tahun 2018 dan mungkin untuk selama beberapa tahun berikutnya.
Pertama, kekalahan ISIS di Mosul Irak (Juli 2017), di Raqqa Suriah (Okt 2017) dan Marawi Filipina (Okt 2017) mengirim pesan tegas: musuh bersama tak punya tempat untuk berlanjut. Hindari memposisikan diri sebagai musuh bersama.
Kedua, aksi-aksi teror di berbagai belahan bumi selama 2017 -- mulai dari serangan Kelab Malam Istanbul Turki (1 Jan), juga aksi teror dekat parlemen Inggris (22 Maret).
Bom gerbong Subway Pettersburg Rusia (3 Apr), teror gilas mobil di Swedia (7 Apr), lalu bom kembar di gereja Mesir (9 Apr) serta rangkaian teror bom di Pakistan, Afghanistan dan Irak, sampai serangan gilas mobil di Menhattan New York (1 Nop)
Bom masjid di Sinai Utara Mesir (25 Nop), dan bom bunuh diri yang gagal di Subway New York Amerika (11 Des) -- semakin membuktikan bahwa dendam spiral yang disertai kekerasan memerlukan kearifan, dan tampaknya, semua pakar masih gagap merumuskannya, entah sampai kapan.
Ketiga, di tahun 2017, tercatat sudah 26 negara mengakui perkawinan sesama jenis: Gelombang LGBT. Yang terakhir Australia pada Desember 2017. Daftar negara berikutnya segera menyusul.
Keempat, kasus Kim Jung-un di Korea Utara dengan isu nuklirnya mengirim kecemasan regional global. Terhadap orang yang labil emosinya dan berpotensi nekat, mungkin perlu perlakuan spesial. Jangan membuatnya semakin putus asa.
Kelima, rangkaian kebijakan regional Muhammad bin Salman (MBS), sejak dilantik menjadi Putra Mahkota Saudi Arabia memang tidak konvensional dan menghentak: Perang Yaman, Boikot Qatar, penangkapan pangeran dan pejabat korup, dst. Tapi hindari disebut orang ngawur. Pesannya: jangan memulai sesuatu yang Anda tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya!
Keenam, Iran yang dimusuhi Amerika, Israel, dan Saudi Arabia namun tetap relatif sukses menancapkan pengaruhnya di Irak, Suriah, Yaman, Bahrain, dan juga Qatar, mengirim pesan: konsisten pada prinsip politik tertentu akhirnya akan berbuah apresiasi dan sukses yang relatif, meskipun barangkali kita menentang substansi dari prinsip dan konsistensi tersebut.
Ketujuh, taktik dan strategi Maskirovka (tipu-tipu atau kamuflase) yang dijalankan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk menata ulang kedigdayaan Rusia secara global mengirim pesan bahwa "kekuatan" selalu dan secara otomatis mencari wilayah pengaruhnya.
Kedelapan, pengungsi Rohingnya dari Myanmar ke Bangladesh, dan tuduhan etnis cleansing yang dijalankan militer Myanmar, membuat miris.Â