Di titik yang terletak kira-kira di pertengahan antara hulu dan hilir. Menyeberangi Tigris yang tak henti-hentinya mengalir. Rasa-rasanya seperti akan jadi perjalanan tiada akhir.
Tepian timurnya masih menawarkan damai. Tepian baratnya ibarat daratan Dumay (dunia maya). Nyaris tak ada celah membayangkan lingkungan permai.
Dua tepian yang pernah unggul di kebudayaan dan peradaban. Belum terbayang  kemana akan bergoyang bandul masa depan. Kini semua orang merangkak melirik ke depan.
Di Mosul Irak puluhan ribu mayat makamnya tak ketahuan. Di Raqqah Suriah  calon mayat antri berbilang ribuan. Semua hidup di alam yang rentan ledakan dan serbuan.
Semua pihak mengklaim hak dan kebenaran. Tapi perilaku keseharian tak ubahnya seperti tiran. Akibatnya darah mengalir deras seperti air bocor di keran.
Tentang ambisi masa depan regional. Mengenai nostalgia dan keserakahan mondial. Tak sadar kehidupan berputar layaknya ban radial.
Di dua tepian, kulihat bocah-bocah bermain girang. Tak jauh darinya berdiri milisi bersenjata bermuka garang. Sering hanya karena curiga, Â seseorang bisa membunuh dengan berang.
Negeri yang dialiri dua sungai: biladurafidain. Negeri yang pernah jadi pusat Dinasti Umawiyah. Keduanya porak poranda akibat nafsu dan sya'ratu (kelicikan) Muawiyah.
Semua menarik pelatuk dengan bacaan nama Tuhan. Padahal Tuhan mungkin lebih merestui peluru yang tertahan. Tapi semua berdalil dengan argumen murahan.
Syarifuddin Abdullah | Duhok Irak, 04 Agustus 2017 / 11 Dzul-qa'dah 1438H.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H