Pertanyaan saya sederhana saat diundang ke acara peringatan hari gizi nasional ke-61 di kementerian Kesehatan Republik Indonesia 25 Januari 2021 lalu.
"Ada kaitannya gak, antara kekurangan gizi dan anemia bisa mengganggu kondisi psikis, atau sebaliknya karena gangguan psikis kita bisa kekurangan gizi dan anemia?"
Beruntung saya bisa mendapat jawaban dari 2 orang ahli yang sudah mempunyai pengalaman terkait pertanyaan saya tersebut, yaitu Analisa Widianingrum, S.Psi, M.Psi dan Prof. Endang L. Achadi.
Mbak Analisa, kemudian mempresentasikan sebuah riset yang dilakukan oleh departemen psikologi universitas Harvard untuk menjawab pertanyaan saya tersebut.
Kesimpulannya bahwa orang yang secara emosional terganggu maka akan berpengaruh kepada kondisi fisik mereka.
Yang terpengaruh pertama adalah jantung, dan jika dibiarkan semakin lama, bisa jadi mempengaruhi fungsi organ lainnya.
Jadi pada penelitian tersebut semua responden diberikan dua stimulan cerita, pertama cerita sedih dan kedua cerita bahagia. Dan ternyata, saat diberikan cerita sedih, pembuluh darah responden menyempit yang mengakibatkan oksigen tidak sempurna diterima oleh jantung.
Tapi saat diberikan berita bahagia, lalu menarik nafas dengan tenang, kondisi pembuluh darah kembali normal. Kita tentu menyadari bahwa kita adalah makhluk oksigen, artinya butuh oksigen dengan cukup baik agar bisa lebih nyaman.
Sedangkan menurut prof Endang, kondisi psikis dan fisik bisa saling mempengaruhi satu sama lain. Anemia itu terjadinya tidak dalam waktu singkat, butuh waktu lama mulai dari perasaan lemas dan malas. Kalau ini didiamkan saja, tanpa dicari penyebab dan diberikan tindakan yang tepat, tentu akan mempengaruhi psikologis. Entah makin malas, atau apapun yang mengganggu kondisi psikis.
Begitu juga sebaliknya, orang yang depresi dan stres ada kemungkinan pola makan dan gaya hidupnya tidak sehat. Jadi ada kemungkinan akan mempengaruhi kesehatan mereka dan terkena anemia.