Saat tinggal dan bekerja di Yogya, gitar tetap menemani. Meski usia tak bisa berdusta. Ia terluka di segenap bagian. Bahkan, sudah timbul lubang-lubang karya rayap yang tak punya tata krama.
Gitar semakin menua dan bunyinya terdengar merana. Sudah ada keinginan menggantinya dengan yang baru. Tempat membeli ditetapkan. Merk dan nomor seri telah dipastikan.
Sampai kemudian, pada suatu minggu seseorang mengirim pesan WhatsApp: “Yan, minta alamat lengkapmu..”
Untuk apa, ia tak mau mengaku. Ia bilang tunggu wae. Membuat kesal saja. Tapi penasaran juga.
Keesokan harinya, saat berposisi di kantor, saya ditelpon kurir. Ia mengkonfirmasi alamat dan ternyata ia sudah di depan.
Dari kejauhan, terlihat sebentuk kardus yang tak lagi asing, seperti saat pertama melihatnya belasan tahun lalu. Jelas, itu sebuah gitar.
Gitar berwarna cokelat muda. Berspesifikasi di atas gitar yang direncanakan dibeli. Kokoh dan bersinar. Sangat impresif. Membuat jatuh cinta pada lirikan pertama.
Saat dipegang, terasa antep. Suara yang dihasilkannya jernih tanpa cela.
Desainnya ergonomis di rengkuhan. Ia enggan diletakkan. Langsung tercipta chemistry di antara kami.
Saya ketiban rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Baik betul si pengirim. Mana ia tak mau namanya di-share di manapun. Sungguh seorang yang mencapai taraf sufi.
Pokokmen, matur nuwun sanget. Lemah teles, Allah sing mbales..