Mohon tunggu...
Ryan M.
Ryan M. Mohon Tunggu... Editor - Video Editor

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun. Professional portfolio : http://youtube.com/user/ryanmintaraga/videos Blog : https://blog.ryanmintaraga.com/

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Fly Me To The Moon #1: Departure

9 Maret 2016   05:41 Diperbarui: 19 Maret 2016   15:52 166
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Namaku Kartika Bimasakti. Hari ini Kamis 17 Agustus 2045, atau kami biasa menyebutnya ‘Hari 229’ dihitung sejak hari pertama matahari terbit di tahun 2045.

“Akhirnya hari ini tiba juga,” ujar Satria Dirgantara – biasa dipanggil Dirga - rekanku dalam misi kali ini.

Aku hanya mengangguk seraya mendengarkan lagu ‘Indonesia Raya’ yang di-relay oleh Pusat Kendali Misi di Trowulan. Hari ini - tepat 100 tahun kemerdekaan Indonesia – aku dan rekanku akan membuat satu perjalanan bersejarah.

“One small step for man, one giant leap for mankind, ya?” Dirga kembali bersuara.  Kalimat yang diambil dari ucapan Neil Armstrong tatkala ia menjadi manusia pertama yang menjejakkan kakinya di bulan.  “Siapa sangka kita akan menjadi orang Indonesia pertama yang melakukannya.”

Aku tersenyum,

“Memangnya apa yang akan kau ucapkan?” tanyaku.

“Entahlah,” bahu Dirga bergerak sedikit.  Pakaian Luar Angkasa seberat 15 kilogram yang kami kenakan sedikit membatasi gerak.  “Mungkin aku akan menyampaikan pesan pada  tetangga-tetangga kecil kita,” lanjutnya diiringi tawa getir.

Tawa getirnya membuatku teringat peristiwa duapuluh tahun silam saat beberapa provinsi menyatakan lepas dari Indonesia dan membentuk negara sendiri dengan dukungan dunia internasional.  Kami berdua masih berusia 18 tahun saat itu.  Kini, beberapa negara pecahan tersebut membentuk sebuah uni baru. Aku menghela napas.

“Sekarang kita di sini, Sakti,” ujar Dirga.  “Kita akan buktikan bahwa Indonesia masih, tetap, dan makin kuat.”

Aku mengangguk.  Kami harus fokus pada misi.  Sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk terbenam dalam romantisme masa lalu tentang Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan kekayaan alam yang luar biasa melimpah.

“Mission Control calling,” radio komunikasi di pesawat kami berbunyi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun