Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 bertujuan dalam menciptakan Indonesia yang lebih baik, dengan visi 'Negara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan' pada tahun 2045. Untuk mencapainya, Indonesia harus menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dengan tujuan mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
Menurut Direktur Eksekutif Traction Energy Asia, Tommy Pratama, Indonesia menyumbang emisi GRK sebesar 1,3 Gigaton CO2e setiap tahun. Negara kita berada di peringkat kedelapan dunia dalam hal emisi GRK, khususnya dari karbondioksida (CO2). Jika situasi ini terus berlanjut, Indonesia mungkin tidak akan mencapai cita-cita sebagai negara maju pada 2045 dan NZE pada 2060. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami dan mengidentifikasi sumber utama emisi GRK.
Berdasarkan studi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas pada 2022, sektor energi adalah penyumbang terbesar emisi GRK di Indonesia, mencapai 50,6% dari total emisi, atau sekitar 1 Gigaton CO2e. Ini menunjukkan bahwa kita perlu segera beralih dari penggunaan energi kotor ke energi yang lebih ramah lingkungan.
Menciptakan energi bersih dan rendah karbon adalah salah satu bagian dari visi Indonesia untuk mencapai tujuan tersebut. Kepala Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cuk Supriyadi Ali Nandar, menegaskan bahwa transisi energi sangat penting untuk memenuhi komitmen pemerintah dalam mengurangi emisi dan mencapai target NZE.
Salah satu cara untuk mencapai hal ini adalah dengan memanfaatkan kelapa sawit sebagai energi biomassa melalui pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), termasuk biodiesel.
Dalam sebuah konferensi di bawah Presidensi G20 Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, menggarisbawahi bahwa pengembangan biodiesel adalah langkah strategis yang dapat membantu dalam upaya mengatasi perubahan iklim di Indonesia.
Biodiesel yang berasal dari minyak nabati adalah salah satu sumber EBT yang sangat potensial. Menurut data, pada tahun 2021, penggunaan biodiesel dari minyak sawit sudah mencapai 40 juta ton. Minyak sawit memiliki harga yang bersaing, pasokan yang stabil, dan volume yang besar, menjadikannya pilihan utama untuk industri biodiesel global.
Selain sebagai sumber energi yang rendah karbon, biodiesel juga memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia. Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman, menjelaskan bahwa jika kita hanya mengandalkan minyak sawit untuk bahan pangan, maka dampaknya terhadap harga bisa negatif. Hal ini disebabkan oleh surplus pasokan yang lebih besar dibandingkan permintaan.
Maka dari itu dalam mendukung pengembangan biodiesel, BPDPKS telah melaksanakan berbagai program. Sejak 2015, BPDPKS telah mendanai pengembangan biodiesel sebanyak 48,19 juta liter, yang membantu mengurangi emisi GRK setara dengan 64,16 juta ton CO2. Dengan cara ini, program biodiesel berkontribusi signifikan dalam mencapai NZE pada tahun 2060.
BPDPKS juga berkomitmen untuk menutup selisih harga antara solar dan biodiesel, agar penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel dapat dimaksimalkan. Ini diharapkan akan memberikan manfaat tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi para petani sawit, sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan dari hasil produksi mereka.
Secara keseluruhan, BPDPKS, sebagai lembaga pengelola pendanaan untuk perkebunan kelapa sawit, berperan penting dalam mencapai visi Indonesia emas pada tahun 2045 dan NZE pada tahun 2060. Melalui pemanfaatan tanaman kelapa sawit, BPDPKS tidak hanya berkontribusi terhadap lingkungan, tetapi juga meningkatkan perekonomian nasional.