Saya selalu mencoba untuk membangun hati yang tegar. Banyak hal yang saya coba untuk menghilangkan perasaan stres dan depresi. Saya mensyukuri adanya perasaan ini karena saya dapat belajar untuk menguatkan diri sendiri. Ini juga merupakan salah satu bentuk pertahanan bagi saya agar tidak berlarut-larut dalam perasaan stres dan depresi.Â
Menerima adalah perasaan yang harus kita miliki, entah menerima hal baik maupun hal buruk, karena keduanya merupakan unsur keseimbangan kehidupan. Ada banyak hal yang mampu kita kendalikan dan banyak hal juga yang tak mampu kita kendalikan.Â
Tetaplah kita belajar untuk memperbaiki diri. Perbanyak mendekati diri pada hal-hal yang baik, namun jangan lemahjika kita menerima hal buruk sebagai balasannya. Anggaplah itu sebagai penyeimbang dalam kehidupan ini.Â
Tidak apa jika saya mengalami stres dan depresi hari ini karena saya yakin akan ada kebaikan yang akan datang besok. Saya terima perasaan ini dan saya akan mencoba agar perasaan ini membawa saya pada kebaikan. Saya berdoa agar perasaan ini tidak larut dalam kehidupan saya sehari-hari dan tidak mengubah kepribadian saya.
Saya juga belajar untuk menerima diri  saya dan menerima teman-teman saya. Saya menerima keluarga dan tetangga saya. Tidak membandingkan kehidupan saya dengan kehidupan orang lain.Â
Saya lebih suka untuk berdiskusi dan tukar pendapat. Kita tak dapat mengubah lingkungan kita, kadang ada orang yang datang dan tiba-tiba marah dan memaki kita, maka kita coba untuk menerima (tujuannya agar kita tak larut dalam emosi yang dia bawa) dan melawan emosi yang dibawa tersebut dengan hati yang tenang. Hati yang tenang adalah kekuatan yang besar. Saya belajar untuk tidak membiarkan hati saya larut dalam perasaan emosi lagi.
Untuk kalian yang masih berjuang melawan perasaan stres dan depresi, cobalah untuk menerima dan menguatkan hati. Jangan takut, kalian tidak sendiri. Jangan larut, kalian tidak sendiri. Jangan sedih karena perasaan stres dan depresi, kalian tidak sendiri. Sebaik-baiknya teman adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Saya bukan seorang psikolog dan psikiater. Saya cerita berdasarkan pengalami pribadi saya menghadapi perasaan stres dan depresi. Saya benar-benar belajar merasakan perasaan stres dan depresi ketika saat saya masuk ke SMA dimana saat itu saya merasa jika keinginan dan mimpi saya tak terwujud, saya kehilangan teman-teman SMP saya, saya kehilangan waktu bermain saya karena saya harus kerja.
Saya menekan dan memaksakan diri saya untuk belajar lebih giat, dan belajar untuk menekan pengeluaran saya karena saya harus berhemat sejak papa kehilangan toko nya di pasar.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI