Mohon tunggu...
Rusman
Rusman Mohon Tunggu... Guru - Libang Pepadi Kab. Tuban - Pemerhati budaya - Praktisi SambangPramitra
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

"Hidupmu terasa LEBIH INDAH jika kau hiasi dengan BUAH KARYA untuk sesama". Penulis juga aktif sebagai litbang Pepadi Kab. Tuban dan aktivis SambangPramitra.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Rusman: Wayang, Mendung di Keraton Mandaraka (1)

1 November 2018   04:58 Diperbarui: 22 Mei 2019   06:30 379
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sindhung riwut magenturan

Orang tua yang masih nampak perkasa itu bernama Prabu Salyapati. Beliau adalah seorang raja besar di kerajaan Mandaraka, yang juga ayah dari para wanita utama. 

Betapa tidak, putrinya yang pertama, Dewi Irowati adalah istri Prabu Baladewa raja Mandura, yang kedua Dewi Surtikanti adalah istri Raden Karno Basusena raja Awangga dan yang ketiga Dewi Banowati istri Prabu Duryudana raja Astina.

Dulu, saat mudanya raja Mandaraka ini bernama Raden Narasoma yaitu seorang putra mahkota yang sedikit tinggi hati. 

Cara berbicaranya ringan, tanpa ragu dengan aksen suara yang lepas serta tangan bergerak mengikuti nada suaranya. Ditambah lagi ukuran badannya yang ideal serta parasnya yang tampan.

Itulah yang mungkin membuat Dewi Pujowati saat itu terkenang-kenang, siang dan malam selalu terbayang wajah pria pujaan hatinya. 

Meskipun mereka hanya berkenalan dalam mimpi, namun pertemuan yang sekilas itu telah mampu membuat sang dewi tergila-gila. 

Baginya tak ada pria lain yang pantas menjadi guru lakinya selain sang Narasoma. Gadis cantik itu bahkan mengancam tak mau menikah selamanya kalau tidak dengan putra Mandaraka itu.

Kontan hal itu membuat sang ayah, Begawan Bagaspati yang pengawak raksasa itu harus mondar-mandir mencari calon menantunya itu. 

Pada awalnya Narasoma menolak, namun saat melihat kecantikan sang dewi maka naluri kelelakiannya berkata lain. 

Dengan bangganya Narasoma menerima lamaran itu, tapi ia tidak mau mertuanya yang raksasa itu membayangi kehidupan mereka, artinya sang mertua itu harus mati.

Tentu ini pilihan yang amat berat bagi Dewi Pujowati. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun