Rabu (18/1) pagi itu para  homeschooler jenjang SD-SMA di Homeschooling Persada, Jatibening Baru, Bekasi; terlihat begitu sumingah alias gembira penuh antusias berkumpul di lobi kampus sekolah mereka. Maklum  pada hari itu mereka akan ditemani para guru tercinta dari PKBM ‘Tamansari Persada’ untuk bersama-sama memainkan sejumlah permainan tradisional yang kali ini terdiri dari lima jenis, yaitu  Bekel, Bentengan, Cutrik, Gasing, dan Rangku Alu. Ditambah lagi pada salah satu tradisi edukasi budaya tahunan itu, seperti juga tahun-tahun sebelumnya, mereka bakal bisa menikmati jajanan khas tradisional yang kali ini sengaja dipilih sejumlah camilan berbahan dasar singkong ( Manihot esculenta ).
Lima buah stan permainan, satu di lantai pertama dan lainnya di lantai dua gedung kampus, yang dekorasi maupun aneka perlengkapannya disiapkan bersama-sama oleh para homeschooler dan guru-guru pembimbing mereka telah siap menanti. Tentu saja sebelumnya ada upacara pembukaan yang diisi doa bersama, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan sejumlah pengarahan dari para guru tentang aktifitas yang akan mereka jalani hari itu. Selepas itu mereka pun bubar jalan untuk mendaftar menjadi peserta permainan tradisional sesuai pilihan masing-masing, walaupun nanti pada akhirnya mereka akan menjajal semua atau hampir semua jenis permainan atas persuasi gigih guru yang menjadi penjaga stan.
Begitulah, semua peserta yang telah mendaftar akan menerima selembar kartu berisi jenis permainan yang akan diikuti sekaligus berfungsi sebagai kupon konsumsi yang nantinya bisa ditukarkan dengan berbagai jajanan yang akan dihidangkan di lantai tiga saat jelang siang. Selanjutnya gedung kampus pun gegap gempita dengan suara dan gerak kegembiraan para homeschoolers berjibaku memenangkan kompetisi permainan  …
Sementara Cutrik menggunakan segenggam lidi yang telah dipotong pendek-pendek. Lidi diserakkan di kotak, lalu pemain harus mengambil lidi yang tidak tumpang tindih dengan jari dan mencutrik (menyentil dengan ujung jari telunjuk,-pen.) bila lidinya tumpang tindih. Lidi-lidi ini memiliki poin (Raja 10, Patih 5, Prajurit 1) dan pada sesi kompetisi, pemain dengan poin terbanyak adalah pemenangnya. Pada permainan Gasing, digunakan silinder kayu yang diberi poros dan harus diputar dengan bantuan lilitan benang yang ditarik cepat menentukan pemenangnya berdasarkan waktu berputar gasing terlama di antara para pesertanya.
Berbeda dari tiga permainan di atas, Bentengan dan Rangku Alu merupakan jenis permainan kelompok. Bentengan menyerupai perang-perangan yang melibatkan dua kelompok, dimana dengan berbagai taktik keduanya berusaha menduduki benteng musuh. Pemenangnya adalah kelompok yang sukses merebut benteng lawan duluan. Rangku Alu memerlukan minimal tiga pemain yang secara bergantian akan memegang dan menggoyangkan tongkat kayu (alu) dengan ritme tertentu dan pemain yang dapat giliran melompat-lompat di antara gerakan dua tongkat tersebut harus tangkas memastikan kakinya tidak terjepit. Saat ada yang terjepit itulah, pemain berganti posisi. Pada sesi kompetisi, kelompok yang bermain dengan waktu terlama adalah pemenangnya.
Puncak acara berupa pembagian hadiah bagi para pemenang dan semua homeschooler yang berpartisipasi mendapatkan medali emas yang terbuat dari koin-koin coklat yang dibungkus kertas emas. We are the champhions, my friends …! Ternyata di luar gadgetsdan  junk foodsimpornya , negeri kita masih punya aneka permainan dan makanan tradisional yang lebih sehat plus asyik bangeeet ! Yuk, kita gali lebih dalam lagi kekayaan budaya Nusantara.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H