Seperti yang telah disinggung sebelumnya fenomena meninggal dalam kesendirian ini bukan semata mata akibat populasi yang semakin menua namun hal ini mencerminkan kondisi masyarakat yang telah kehilangan rasa kebersamaan; tetangga tidak lagi saling menjaga, sementara banyak orang yang memilih untuk mengisolasi diri.
Pemerintah Jepang memang telah mencoba melakukan monitoring keberadaan dan kesehatan penghuni yang sudah menua untuk membantu dan memeriksa kesehatan mereka, namun karena fenomena ini semakin meluas, masih banyak diantaranya yang tinggal sendiri dengan kondisi kesehatan yang tidak baik dan terjebak dalam kecanduan alkohol akibat kesepian.
Dalam kasus seperti ini peran masyarakat menjadi penting karena kontak dengan orang lain membuat seseorang menjadi bagian masyarakat dan tidak merasa kesepian. Dalam kasus orang yang menyendiri dan tidak bersosialisasi dengan tetangga, maka perlung mereka meninggal dalam kesendirian akan semakin besar.
Fenomena meninggal dalam kesendirian ini mencerminkan bahwa sukses yang dicapai Jepang dalam perekonomian berdampak pada perubahan sosial yang berujung keburukan yaitu menghasilkan masyarakat Jepang yang depresi.
Erosi budaya menyebabkan terjadinya pergeseran sosial dari masyarakat yang memiliki kedekatan keluarga dan saling menjaga menjadi masyarakat soliter seharusnya dapat diprediksi sebelumnya, namun sayangnya angka masyarakat Jepang yang meninggal dalam kesendirian yang sangat tinggi ini mencerminkan kegagalan Jepang dalam membangun sumberdaya manusianya ke depan.
Jepang kini terjebak dalam krisis demografi yang tidak mudah untuk diselesaikan karena memerlukan waktu yang sangat lama dan upaya yang sangat kuat untuk memulihkannya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H