Bulan Februari ini baik dunia maupun Rusia memperingati 1 tahun invasi Rusia ke Ukraina.
Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa invasi Rusia ke Ukraina pada bulan Februari 2022 telah mengubah tatanan politik dan perekonomian global yang berdampak sistemik.
Sebagai reaksi dari invasi Rusia ini, negara barat yang dimotori oleh Amerika memberikan sanksi besar-besaran dengan harapan akan melumpuhkan perekonomian Rusia dan mengucilkan Rusia dari dunia innternasional.
Pertanyaan yang muncul sekarang adalah bagaimana dampak sanksi ini terhadap Rusia? Akankah keinginan Amerika dan sekutunya untuk melihat keruntuhan perekonomian Rusia akan terwujud?
Dampak Sanksi
Upaya mengeliminasi Rusia sebagai pemasok utama minyak dan gas ke Eropa ternyata tidak sepenuhnya berhasil, bahkan sebaliknya memicu kenaikan harga minyak dan bahan pokok lainnya yang membuat efek domino yang memicu inflasi dunia.
Penjualan minyak Rusia ke Eropa memang menurun akibat sanksi yang diterapkan ini, namun sebaliknya penjualan minyak dan gas Rusia ke wilayah lain seperti Asia dan Afrika meningkat tajam.
Upaya mengucilkan Rusia dari dunia internasional ternyata juga tidak sepenuhnya berhasil. Negara Barat memang berhasil mengucilkan Rusia, namun negara-negara di Asia pada umumnya tidak bereaksi dan memilih untuk tetap bersahabat dengan Rusia, utamanya raksasa ekonomi baru Tiongkok dan juga India.
Satu tahun sanksi besar-besaran sudah diterapkan, namun harapan Amerika dan sekutunya untuk melihat keruntuhan perekonomian Rusia ternyata tidak terjadi.
Ketahanan perekonomian Rusia yang tidak runtuh akibat sanksi inilah yang membuat Putin percaya diri dan terkuak dalam pidato memperingati setahun perang dengan Ukraina dengan mengatakan Rusia dapat melewatinya dengan sukses.