Kisah ini bermula ketika dua sejoli Palestina yaitu  Farhana dan  Hossam menikah di tahun 2008 lalu.  Namun kebahagiaan yang dirasakan  pengantin baru ini ternyata hanya sekejap saja karena 3 bulan kemudian Hossam di tangkap oleh pihak keamanan Israel saat  pecah perang  di wilayah Gaza.
Oleh pengadilan Israel Hossam akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama 18 tahun  mulai tahun 2009.
Dipenjarakannya Hossam memang untuk sementara mengakhiri perjuangan fisiknya, namun secara spiritual kedua pasangan ini perjuangannya masih menggelora.
Perjuangan fisik kedua pasangan ini kini beralih ke perjuangan bagaimana pasangan muda ini memperoleh keturunan.
Mengingat lamanya waktu hukuman yang diterima Hossam maka memiliki anak setelah selesai masa hukuman tentunya merupakan pilihan akhir karena situasi politik  di wilayah konflik ini dapat saja berubah sewaktu waktu.
Entah dari mana muncul ide yang cukup beresiko ini akhirnya setelah merencanakannya berbulan bulan mereka berdua memutuskan untuk menyelundupkan sperma suaminya agar dapat digunakan oleh Farhana untuk bayi tabung.
Rencana mereka tidaklah mudah karena waktu kunjungan keluarga di penjara Isreael  utama untuk tahanan potilik sangatlah jarang dan sangat ketat.
Numun keinginan keras pasangan ini memperoleh keturunan membuat mereka memiliki keteguhan untuk  merencanakan dan melakukan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan akan terjadi dalam hidup mereka.
Rencana penyelundupan sperma  Hossam akhirnya sampai pada harinya ketika Fahana memiliki kesempatan untuk melakukan kunjungan ke penjara menemui suaminya.
Farhana dan  Hossam sengat faham  bahwa kesempatan ini sangat jarang terjadi dan harus direncanakan dengan matang tanpa kesalahan, karena jika aksi mereka diketahui oleh pihak keamanan Israel maka pupuslah usaha meraka dan kemungkinan masa hukuman Hossam akan ditambah dan Farhana akan dipenjarakan.
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!