Disamping itu penyakt HIV dengan perkembangan ilmu pengobatan  terbaru sudah mulai dapat ditangani dengan obat obatan dan telah dibuktikan bahwa HIV bukanlah penyakit menurun.
Setelah mempublikasikan keberhasilannya Prof. He Jiankui memang  banyak mendapat kecaman dari sesama kolega nya di dunia karena jika benar apa yang di kalim nya maka penelitian ini dinilai  telah melanggar etik dan moral. Sebaliknya jika klaim keberhasilan Prof. He Jiankui ini tidak benar  maka dia dianggap melanggar kode etik peneliti karena melakukan penipuan terhadap keabsahan hasil penelitiannnya.
Kehawatiran terbesar akan penelitian yang melibatkan teknologi pengeditan gen manusia ini adalah stabilitas hasil penelitiannya seiring dengan bertambahnya umur individu yang gennya telah mengalami pengeditan.
Sampai saat ini memang tidak ada jaminan apakah individu yang sudah diedit gen nya dapat hidup sehat dan terhindar dari mutasi lebih lanjut dan juga terhindar dari penyakit genetik lainnya yang berkembang selanjutnya seperti misalnya berkembang menjadi kanker dll.
Oleh sebab itu banyak kalangan yang berpendapat bahwa tidak ada urgensi nya untuk mengedit gen pada anak yang sehat seperti yang dilakukan oleh Prof. He Jiankui.
Terlepas dari kontroversi pengakuan Prof. He Jiankui yang mengaku terlah berhasil mengedit gen Lulu dan Nana, maka tetap saja perkembangan ilmu pengetahuan terutama yang menyangkut manusia harus berpegang teguh pada dua hal yaitu moral dan etik.Â
Dengan kata lain walaupun niat dan tujuannya baik,  penelitian terkait dengan embrio manusia harus berpegang teguh pada dua hal tersebut karena akan menyangkut generasi mendatang  umat manusia.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H