Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (KBBI edisi V). koentjaraningrat (1994) menyatakan bahwa bahasa masuk dalam budaya di suatu masyarakat. Jadi, bahasa merupakan aspek budaya suatu bangsa.
Bahasa verbal adalah bahasa yang terdiri atas lisan dan tulisan, sedangkan bahasa non verbal bisa dikatakan selain bahasa lisan dan tulisan. Bahasa non verbal terdiri atas gerakan tubuh, ekspresi wajah, pakaian yang digunakan, penggunaan nada vocal pada saat berbicara, dan beberapa hal lain yang mampu memberikan pesan atau  kepada orang lain.
Bahasa nonverbal mengambil peran penting dalam berkomunikasi. mehrabian (1971) dalam Mulyana (2000) mengatakan 93% dari semua makna sosisal dalam komunikasi tatap muka diperoleh dari isyarat-isyarat nonverbal. Kehadiran bahasa nonverbal menjadi suatu yang penting. Bahasa nonverbal dapat dijadikan pendukung bahasa verbal. Misalnya, jika seseorang itu sedang bahagia, maka cukup dengan tersenyum manis.
Di Jawa, orang yang memiliki tata krama disebut memiliki unggah-ungguh. Unggah-ungguh adalah cara berbicara dan membawa diri. Seseroang dapat menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai derajat dan kedudukannya. Sebab bagi masyarakat Jawa keadaan rukun dan damai didasarkan penyesuaiannya terhadap lingkungan. Unggah--ungguh juga menjadi perhatian utama, agar tidak luntur begitu saja.Â
Unggah--ungguh tidak hanya diwujudkan dengan bahasa. Tapi juga dengan gerakan tubuh. Sikap sopan, diperlihatkan dengan kehalusan dalam gerak tubuh yang biasa dilakukan untuk bertegur sapa atau dilakukan supaya orang yang sedang berinteraksi dengan kita merasa lebih dihargai atau dihormati.
 Contohnya adalah ketika kita lewat didepan orang kita harus menundukan kepala atau membungkukkan badan, ketika murid sedang bersekolah tangan harus dilipat di atas meja, ketika kita berbicara dengan orang yang lebih tua kita harus menundukkan kepala dan tangan ngapurancang.Â
Sopan santun di jawa diutamakan karena memang dari sudut pandang orang Jawa yang dinilai lemah lembut dan kalem. Kesantunan yang membuat orang Jawa lebih dipandang di lingkungan masyarakat.Â
Keberadaan tata krama dalam hidup orang Jawa mampu menciptakan ketentraman dan kedamaian dalam masyarakat. Karena prinsip dasarnya adalah kerukunan dan saling menghormati. Keberadaan kerukunan bertujuan mempertahankan masyarakat dalam keadaan harmonis.Â
Rukun adalah keadaan baik pada sebuah hubungan sosial baik dalam keluarga, tetangga, desa, bangsa, dan negara. Orang Jawa selalu menjaga keselarasan sehingga terciptalah harmoni.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI