Sejak dua kilometer sebelum tiba di tempat tujuan, sudah terasa ada yang berbeda dengan ban belakang motor saya. Saya pun mengurangi kecepatan, menjaga kemungkinan buruk yang terjadi. Hingga tiba di tempat tujuan, ban belakang tetap aman terkendali, meski tanda-tanda kempisnya mulai tampak nyata. Karena telah tiba di tempat tujuan, segera saya tinggalkan motor di parkiran (pikir saya untuk urusan ban akan saya selesaikan belakangan), dan bergegas menemui seseorang yang telah membuat janji dengan saya sebelumnya untuk membicarakan rencana kegiatan pada akhir bulan nanti.
Selesai menemui seseorang tersebut, saya pun kembali ke parkiran untuk berjuang dengan ban belakang motor saya. Saya memilih untuk menaiki motor kesayangan saya ini, meski kempisnya makin parah. Keluar dari parkiran, tepat di depan gedung yang baru saya tinggalkan, saya temukan depot tambal ban di pinggir jalan. Akhirnya saya putuskan untuk memasang ban dalam pada ban tubles yang baru berusia tiga bulan ini, karena cairan yang ada di dalam ban tubles tersebut tak cukup ampuh untuk "menyemprot dan menutup" lubang yang ditimbulkan oleh paku, hingga menyebabkan habisnya nitrogen di dalam ban.
Sembari menunggu ban dalam dipasang (sebagai ganti cairan dari ban tubles dan nitrogen yang hanya bisa didapatkan di tempat-tempat tertentu), saya tatap motor saya dengan penuh rasa syukur. Bersyukur karena ban baru bocor pada hari ini, bukan bocor sehari sebelumnya saat saya bersama dengan isteri menempuh perjalanan sejauh 68 Km (rute: Surabaya-Bangkalan-Surabaya), perjalanan yang jarang dijumpai depot tambal ban, bahkan tidak ada sama sekali (saat di atas jembatan Suramadu). Betapa sengsaranya apabila ban bocor terjadi sehari sebelumnya saat saya sedang bersama dengan isteri.
Melalui peristiwa sederhana ini, saya kembali diingatkan akan peristiwa-peristiwa yang telah lalu (tidak bisa lagi dikatakan sebagai peristiwa yang sederhana, hanya seperti ban bocor yang remeh temeh ini), bahwa untuk mengalami anugerah, tidak perlu menunggu musibah terjadi lebih dulu (ada anugerah di balik musibah), karena musibah itu adalah anugerah itu sendiri. Melalui musibah kita bisa melihat anugerah karya pertolongan Tuhan di dalamnya.
Musibah bukanlah kesialan dan kesusahan bagi kita, musibah merupakan bentuk kesaksian akan karya pertolongan Tuhan dalam hidup kita. Demikian halnya dengan berkat, berkat bukanlah kebaikan dan keuntungan bagi diri kita sendiri, melainkan merupakan bentuk kesaksian akan karya Tuhan dalam hidup kita untuk menjadi saluran berkat dan untuk kemulian nama-Nya. Dengan memiliki pemahaman seperti ini, kiranya hidup kita menjadi hidup yang selalu berpusat pada Sang Pemilik Kehidupan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI