Mohon tunggu...
Intan Rosmadewi
Intan Rosmadewi Mohon Tunggu... Guru SMP - Pengajar

Pengajar, Kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain ; sesungguhnya adalah kebaikan untuk diri kita sendiri QS. Isra' ( 17 ) : 7

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Panik

17 Maret 2015   19:44 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:31 42
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
1426595163708870954

[caption id="attachment_373461" align="alignright" width="640" caption="http://pixabay.com/p-55045/?no_redirect"][/caption]



“Lebay . . . Lebay” komentar anakku kesal.

Wajah anak ku kecewa dengan tindakan sekolahnya melakukan testpack , tersinggung berat, kecewa dan mencoreng harkat dirinya yang independen sebagai makhluk yang tengah dalam proses pendidikan, dan ia merasa bahwa martabat kehormatan kedua orang tuanya tercoreng

Sebagian dari temannya konon menangis . . .

Bayangkan Bunda, seluruh badan diraba . . . perut diacak – acak oleh petugas, kami tersinggung Bunda.

Hanya menyimak merasakan ketersinggungan puteri kami yang duduk di kelas 12,dan baru saja beberapa menit yang lalu berjumpa puteri yang duduk di kelas 10 berlinang air mata . . .

Sepintas saja Bunda bertanya ringan, “kenapa ?”

“ngga ada Bun . . .”

“akh mata kamu sembab” sambil Bunda tatap wajah indahnya . . .

Menebak tepat “kamu di testpack juga ?”“iya” dengan wajah kuyu;

“lalu . . .?”

“harus beli . . . karena harus . . . “

“yeaah, kamu ngga perlu beli macem – macem, kamu sehat nanti bunda sendiri yang antar kamu ke dokter kandungan jika ada keluhan”

Sidak Sekolah kedua puteri Bunda yang dilakukan sekolahnya, memang terkesan tidak masuk akal,kedua puteri kami mewakili semua puteri yang terkena sidak sedih.

Entah ya tindakan ini tindakan panik dari pimpinan sekolah yang sangat tidak bijaksana tidak menimbang rasa dan perasaan siswi – siswinya.

Memang Bunda akan komplain dengan cara kami sebagai orang tua, hanya saja kedua puteri ini harus di tenangkan perasaan – nya.

“Kalian berdua harus ingat nak . . . jaga kehormatan keluargamu, adapun tindakan sekolah kamu yang sembrono itu gambaran pemimpin yang tidak berilmu dan tidak layak jadi pemimpin, mungkin saja karena ambisinya ia menjadi pemimpin . . . dan di negeri ini banyak sekali pemimpin yang sok jadi pemimpin sesungguhnya ia tidak punya sedikitpun bekal jadi seorang leader”.

Dan bundapun melanjutkan wejangan siang ini sepintas saja;

“Kebijakan seorang pemimpin dimanapun itu tidak bisa di peroleh dengan tingginya seseorang dalam pendidikan formal, kebijaksanaan adalah akumulasi olah spiritual dalam rentang waktu yang panjang,jadi memang kita akan menjadi korban kebijakan seseorang yang dipilih jadi pemimpin dan ternyata dia memecahkan persolan demi persoalan dengan tidak bijak”

Kedua puteri bunda tercenung . . . . mungkin bingung, mungkin tambak sedih

Bundapun berlalu, keduanya akan menangkap makna dari kisah dua hari ini tentang testpack yang tidak di duga dan tidak logis dilakukan oleh pemimpin sekolah yang tidak layak jadi pemimpin.

rabu,  27  jumadil awwal 1436 M  /  18 maret 2015 M

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun