Banjarmasin -- Dosen pengampu mata kuliah Teknik Reportase dan Wawancara pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) program studi Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin (UNISKA MAB), Fathurrahman, M.Med.Kom, menjelaskan salah satu dari tiga teknik penulisan berita, yakni observasi, kepada para mahasiswa non-regional semester enam, Sabtu, (18/05/24) pagi.
Kepada para mahasiswa yang terlihat antusias mendengarkan materi beliau, Fathurrahman menjelaskan secara sederhana, bahwa kegiatan observasi merupakan pengamatan peristiwa atau liputan langsung di lapangan. Pada kegiatan observasi tersebut, seorang wartawan datang langsung untuk mengamati dan mengumpulkan data, sekurang-kurangnya meliputi unsur 5W+1H, yakni What (Apa), Who (Siapa), Where (Di mana), When (Kapan), Why (Mengapa), dan How (Bagaimana).
"Misalnya ada kasus tercemarnya sungai oleh industri. Maka, kita bisa mengamati langsung melihat warna dari sungai apakah ada perubahan atau terlihat kondisi yang berbeda. Mencari keanehan-keanehan apa yang mungkin tidak lazim terjadi, bisa jadi rasanya," ujar Fathurrahman.
Karenanya, menurut Fathurrahman, dalam kegiatan observasi ini penting untuk mengotimalkan setiap panca indera. Di antaranya penglihatan (mata), pendengaran (telinga), pengecap (lidah), peraba (kulit), dan penciuman (hidung). Melalui indera yang ada itulah, menurut beliau, kita bisa mengeksplore sehingga materi berita kita menjadi kaya dan dalam.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H