Mohon tunggu...
Robbi Gandamana
Robbi Gandamana Mohon Tunggu... Ilustrator - Ilustrator

Facebook : https://www.facebook.com/robbi.belumfull -------- IG : https://www.instagram.com/robbigandamana/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Salut buat Ibrahim yang Tega Menyembelih Ismail

10 Agustus 2019   12:42 Diperbarui: 10 Agustus 2019   13:00 420
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Nabi Ibrahim memang top markotop. Bayangkan saja, bagaimana dia bisa menjalankan perintah Allah menyembelih Ismail, anaknya sendiri. Gila men. Nek aku jelas gak gelem, "Ya Alloh batalno kenabianku ae wis. Gak sanggup aku..angkat tangan...mosok aku kudu mbeleh anakku dewe, sampeyan iku serius ta?"

Makanya Idul Adha nilainya jauh lebih besar dibandingkan Idul Fitri. Karena hari Idul Adha  kita belajar keikhlasan, kesabaran, ketaqwaan yang luar biasa dari Nabi Ibrahim juga Ismail. Ketika tahu bapaknya mau menyembelih, Ismail mempersilahkan dengan rileksnya.

Andai aku Ismail, tanggapannya bakalan seperti ini, "Sampeyan iku gendeng ta!? Gak mungkin Tuhan ngongkon ngono iku. Iku mesti setan. Mikiro talah. Bapak gak cerdas.."

Nggak cuman ikhlas kehilangan anaknya di tangannya sendiri. Nabi Ibrahim harus ikhlas menjadi satu-satunya Nabi yang dikenal sebagai "pembunuh" anak kandungnya. Manusia biasa mana kuat menanggung beban seperti itu. Kadang perintah Allah pada para Nabinya itu neko-neko. Tapi Tuhan memang Maha Neko-Neko.

Nabi Ibrahim diperintah mengorbankan anaknya, sedangkan kita cuma disuruh mengorbankan kambing saja sulitnya naudzubillah. Onok ae alasane. Sing jarene anake melbu kuliah, butuh duwik akeh. Sing jarene gawe ndadani omah, kayune keropos ate ambruk. Sing jarene ganti henpon, sing wingi wis ketinggalan jaman, gengsi Ndes. Tapi memang ada yang benar-benar bokek.

Tapi iku wajar, manusia itu memang tempatnya kikir, medit, pelit, ngirit. Termasuk aku. Nggak yakin-yakin amat kalau Allah itu Maha Pemberi Rezeki. Cara berpikirnya masih manual, bahwa memberi adalah mengurangi. Padahal memberi itu menanam benih. Yang akan tumbuh dan panen pada saatnya nanti. Makanya orang yang rezekinya terjamin itu yang banyak memberi.

Idul Fitri memang hari istimewa, tapi kalau dibandingkan dengan Idul Adha ya jauh. Kebanyakan kita merayakan Idul Fitri dengan meriah karena hari itu kita terbebas dari lapar. Makanya Idul Fitri itu bagi orang awam adalah hari balas dendam, mangan sak ndelosore.

Pantesan ora Madura mudiknya pas hari Idul Adha bukan Idul Fitri. Beda dengan kita yang mudik dan merayakan dengan besar-besaran hari Idul Fitri dibandingkan dengan Idul Adha. Dalam hal ini orang Madura lebih cerdas dari kita. Salut Cong.

Kalau soal agama, orang Madura memang terkenal punya keteguhan yang kuat. Omahe gedek tapi ternyata wis munggah kaji. Beda dengan kebanyakan kita yang membangun rumah dulu sampai tuntas tas, baru setelah itu ingat haji (masih ingat, belum diniati). Pokoknya agama itu nomer satu. Sekolah formal kacau nggak masalah asal pinter ngaji.

Kembali ke Ibrahim..

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun